Zagora dan M’Hamid

by: Candra Nuswantari

Siang hari selepas explore Ait bin Haddou kami bergegas menuju Zagora dengan diantar mobil van yang masih dipiloti Ala. Tiba di Zagora di rembang senja, langit berwarna jingga melatari bangunan-bangunan berwarna terakota. Dari Zagora, kita bisa memilih untuk naik bus pada jam-jam tertentu, atau menyewa minibus agar bisa segera tiba di M’Hamid. Berhitung karena esok paginya kami harus rally menembus Sahara, kami memutuskan untuk menyewa mobil saja agar segera tiba di penginapan.

Ada terminal bus cukup besar di Zagora yang penuh dengan mobil-mobil minibus yang bisa kita sewa untuk mengantar ke tujuan tertentu. Tarik menarik penumpang di terminal ini cukup sengit, demikian juga tawar menawar harga sewanya. Kami sudah lelah, sehingga tak sanggup ngepoin berapa harga sewa per mobil untuk mencapai M’Hamid. Semua diurus Rani. Hahaha.. sungguh kami ini backpacker gadungan nan receh!

Satu jam lebih kami berkendara melintasi jalanan yang sepi dengan sesekali terlihat rumah-rumah penduduk yang diterangi lampu. Tiba di M’Hamid sudah hampir jam 8 malam, kota sudah tampak sepi dengan debu pasir sesekali terbang terbawa angin malam. Hawa dingin gurun mulai menyergap.

01 Mhamid
Sehabis belanja kain penutup kepala di sebuah toko di M’Hamid

Kami tiba di penginapan milik Barack yang berada di pinggir kota M’Hamid. Sepertinya penginapan ini adalah bangunan terakhir sebelum memasuki Sahara. Kami memasuki bangunan yang terbuat dari campuran tanah merah dan rumput yang tampak baru selesai dibangun. Ada kamar-kamar ukuran untuk 2 orang di dalam bangunan dan satu ruangan besar untuk duduk-duduk dan makan. Tamu juga bisa memilih tidur di halaman beralaskan kasur untuk menikmati langit malam yang bertabur bintang. Eh, tapi itu idealnya, namun bisa saja terjadi badai pasir menyerbu di malam hari dan kita terbangun esok hari dengan muka berlapis pasir! Hahaha

Kami sangat lapar karena di Zagora tak sempat mengganjal perut. Barack kemudian menyiapkan makan malam untuk semua, sambil kami kenalan dengan Kamal, operator tour yang akan meng-host kami di gurun. Tik tok tik tok.. dingin, lapar, sambil ngemil kentang daging sampai habis, akhirnya jam 10 malam makanan siap disantap! Ada sate klathak ayam dan daging, dan tentu saja masakan andalan se-Maroko, Tagine! Masaknya 2 jam, makannya tak ada setengah jam saja.

***

Esok harinya kami berkemas, hanya barang yang diperlukan saja yang dibawa ke gurun karena terbatasnya bagasi. Sisanya dikemas dan dititipkan pada Barack. Karena hanya menginap semalam, saya hanya membawa toileteries, 1 celana tidur, dan 1 kaos ganti. Dan karena listrik terbatas hanya untuk penerangan, pastikan power bank dan batere kamera cadangan terisi penuh. Sungguh pastikan powerbank penuh karena sinyal di Erg-Chegaga bisa 4G sodara-sodara! Jadi bisa siaran live di tengah gurun yang gak ada siapa-siapa tanpa nge-lag.

Selepas sarapan, beberapa mobil SUV (Toyota Prado dan Fortuner) sudah standby di depan penginapan. Satu mobil diisi 4-5 penumpang plus ransel-ransel dan perbekalan. Saya lupa berapa lama kami berkendara memasuki gurun Sahara karena terlalu excited dengan pemandangan di sepanjang jalan. Sebenarnya tak ada jalan ding, hanya jalur yang telah padat karena sering dilewati. Abdul sopir kami bisa saja mengambil jalan sesukanya karena tak terlihat ada rambu, tanda penunjuk jalan, atau apa pun. Entah bagaimana ia menavigasi perjalanan kami ini.

02 Sahara
No road, no sign – – – entering Sahara
03 Sahara
Inside the car – entering Sahara

Setelah beberapa lama kami berhenti sejenak di sebuah sumur. Iya, sumur! Di tengah gurun itu ada sumur dengan bak rendah di sampingnya. Onta-onta liar akan datang dan minum di bak itu. Biasanya Kamal dan Abdul berhenti di sumur itu untuk menimba dan memenuhi bak minum onta, namun hari itu rupanya sudah ada orang yang mengisi bak, jadi kami tak berhenti lama.

Kami sempat melintasi sekumpulan tenda, kami kira sudah sampai di lokasi, tapi ternyata mobil masih dihempas manjah melaju membelah gunung-gunung pasir tanpa tanda. Menjelang tengah hari kami memasuki camp milik Kamal. Badai pasir menyambut kami saat baru turun dari mobil. Tiap sekian detik, angin berembus menerbangkan pasir membuat kami berhamburan berlindung.

Ada sekitar 7-8 tenda terpisah jarak 2-3 meter, sebuah bangunan permanen dari tanah dan rumput yang rupanya adalah toilet. Juga sebuah tenda besar tempat kami disambut begitu tiba. Tenda besar ini juga dijadikan tempat makan bersama, menari dan menyanyi bersama di malam hari.

04 Sahara.jpg
Tampak di belakang: toilet dan tenda besar, yang warna coklat tenda tidur

Menjelang sore, badai pasir mulai mereda. Matahari juga mulai meredup, sehingga kami memutuskan untuk berganti kostum untuk berfoto di gurun. Dasar backpacker ala-ala, ribet banget urusan kostum dan make-upnya, hahaha. Untung kami punya make up artist, Linda sehingga saya jadi punya alis dan mata yang bercelak tajam seperti suku Touareg.

Berjalan mendaki gurun pasir ternyata nggak mudah, kaki ambles beberapa senti ke dalam pasir. Tak ada pegangan pohon untuk menarik badan ke atas. Jika salah melangkah di bibir bukit, bisa meluncur turun dengan cantik ke bawah dengan aman. Mendakinya akan pe-er lagi. Kami menyewa 2 onta untuk property foto, karena aslinya kami tak bertemu dengan penggembala onta yang iseng melintas di tengah gurun.

Puas kami berfoto (Rani puas sandboarding) hingga matahari terbenam, kami duduk-duduk sambil menunggu makan malam disiapkan. Seharusnya kami membawa bekal sarden dan makanan lain banyak-banyak, karena sungguh di gurun yang dingin ini rasa laparnya nggak cukup diganjal kentang dan Tagine saja.

Selesai makan, Kamal dan team-nya menyiapkan alat musik tradisional dan mulai menyanyikan lagu-lagu khas gurun. Kamal sebenarnya anak orang kaya, berlatar pendidikan Eropa, namun memilih untuk hidup di gurun untuk menjadi host tamu asing yang ingin menginap. Makin malam, suasana makin menggila. Tanpa minuman alkohol kami berdiri manari bersama dalam irama ritmis dari perkusi yang ditabuh Abdul dkk. Bersama-sama kami menyanyikan lagu yang dipelajari secara kilat.

Tengah malam, langit bertabur bintang gemintang sangat indahnya. Langit bersih tanpa polusi menembuskan cahaya bintang-bintang ke bumi memanjakan mata. Andai udara tak dingin menusuk, ingin rasanya tidur di tengah lingkaran tenda sambil menatap langit.

Saya bangun subuh, berlari ke toilet menembus dingin. Kesenyapan yang melingkup terasa aneh, sepi tanpa suara selain suara nafas saya sendiri. Selesai sholat subuh, saya memberanikan diri mendaki bukit di belakang tenda dan menunggu matahari terbit. Tak ada sesiapa pun, bahkan tak ada suara binatang meski terlihat jejak-jejak aneh di pasir pertanda ada beberapa binatang yang tadi melintas.

08 Sahara
Photo by Aditya Noer

Pagi itu jauh lebih tenang daripada sore sebelumnya. Tak ada angin kencang bertiup, pasir seperti lelap tertidur dan diam. Rasanya gemas melihat hamparan pasir tanpa jejak kaki sama sekali, sungguh sayang untuk diinjak.

07 Sahara
Photo by Wulan Soetirto

Sebelum siang, kami meninggalkan camp dan kembali ke M’Hamid. Perjalanan kembali saya menumpang mobil yang dikemudikan Kamal, sungguh pemuda gila! Benar-benar kami sengaja digoyang-goyang di perjalanan seakan sedang ikut rally mobil. Kamal makin menggila karena kami tertawa dan tampak menikmati, sampai lupa bahwa di jok paling belakang ada sepupunya yang sedang menumpang. Jok paling belakang akan merasakan guncangan paling parah!

Berakhirlah petualangan semalam kami di gurun Sahara, sungguh seharusnya kami menginap 2-3 malam di sana.

06 Sahara.jpg
Yeay! Camping is over! – yang ngangkat tangan itu Mas Kamal

Yang penting dibawa saat camping:

  1. Cemilan coklat dan cemilan gurih
  2. Air minum yang cukup, sungguh dingin dan kering sangat menguras air dalam tubuh
  3. Lauk siap makan

Complete itinerary please click Maroko the Route and Itinerary

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s