Marrakech

by: Candra Nuswantari

Cita-cita sejak awalnya memang begitu, bercapek-capek dahulu lalu leasure kemudian. Jadi menginap di Sahara Desert adalah main course, setelahnya adalah dessert. See? Sekarang jadi tahu ya bedanya desert dengan dessert? Jangan ketuker!

Link tentang Sahara Desert <– click di sini

Kami kembali ke Zagora setelah selesai drama ketinggalan tas berisi uang dan intan permata-nya Rani di penginapan Barack di M’Hamid. Ransel kecil berisi “nyawa’ karena ada paspor, uang cash, dompet dan segala macam itu tadinya sengaja ditinggal Rani di mobil karena hanya ingin turun mengambil backpack besar di kamar. Tapi ternyata ada yang inisiatif “menyelamatkan” karena takut tidak aman meninggalkan barang di mobil. Jadi saat loading tas ke mobil, Rani hanya mengambil backpack besarnya saja. Dan baru sadar tas tidak terbawa pas di rumah Kamal.

Dari rumah Kamal ke Zagora kami menyewa 3 taksi. Dari Zagora rencananya kami akan naik bus malam ke Marrakech. Perjalanan overnight yang melelahkan ini adalah kompensasi dari menginap mewah di Hotel Oscar Ouarzazate 2 hari sebelumnya. Bis dijadwalkan berangkat jam 8 malam dan tiba di terminal Marrakech jam 3 pagi. Baiklah..

Tak ada yang bisa dilihat sepanjang perjalanan yang (maaf) membosankan. Bus melaju santai karena ada pembatasan kecepatan yang diawasi dengan ketat. Dari jendela tidak terlihat sesuatu pun karena gelap. Jam 2 lewat bus sudah sampai di Marrakech, hawa dingin menusuk. Kami berlari masuk ke dalam terminal yang tertutup sehingga hangat.

Ada kedai kopi, coklat, pizza, hot dog, spaghetti dll yang buka 24 jam di dalam terminal. Sambil menunggu pagi kami ngopi sambil ngemil. Kami tak bisa early check in, karena orang Maroko ini bukan type morning person. Bangunnya pada siang! Kalau check in jam 4 pagi bisa-bisa nggak dibukain pintu.

Saat itulah Linda teman kami baru sadar, kameranya tidak ada. Panik! Setelah dirunut-runut, terakhir kamera itu dipegang sewaktu di rumah Kamal. Tapi jika tertinggal di rumah Kamal pastilah ia sudah menelepon. Setelah diingat-ingat lagi dan dirunut lebih detail, rupanya kamera itu tertinggal di dalam taksi. Well, bye bye kamera baru 😦

***

Hari mulai terang, Rani keluar mencari beberapa mobil angkutan untuk membawa kami ke Riad Sijane yang sudah kami pesan. Ada 3 mobil minicab yang membawa kami ke penginapan. Rani sudah berpesan untuk tidak memberikan apapun pada sopir sebab semua sudah dibayar. Jangan memberi apapun meski mereka bersikeras meminta. Noted!

Benar saja, mobil yang membawa Rani tour leader kami sepertinya sengaja dibawa memutar sehingga 2 mobil lain tiba lebih dulu. Di ujung jalan (mobil tidak bisa masuk sampai ke depan riad) kami turun dan mengawasi tas-tas kami dengan pengawasan maksimal. Banyak anak-anak remaja menawarkan diri untuk membawakan tas kami sampai ke riad. “Show me the hotel address and we will take you there, it’s okay!” kata mereka merayu. Kami bergeming menunggu sampai Rani tiba. Sopir 2 angkutan tadi ribut minta uang entah uang apa, tapi sesuai pesan Rani kami tak memberikan sepeser pun.

Akhirnya setelah Rani tiba, semua yang berkerumun tadi bubar. “Bawa backpack masing-masing, kita jalan! Deket kok paling 700 meter,” kata Rani. Baiklah.. angkat backpack di punggung, gendong tas kamera, tenteng tas logistik isi makanan.

Jam 6:45 kami tiba di Riad Sijane. Tak begitu jauh dari Jema el-Fna, tapi juga tak terlalu dekat sehingga masih nyaman dan tidak berisik. Malah kami lah yang berisik pagi itu sampai membangunkan sepasang tamu yang masih bobo, “Guys, it’s still 7 o’clock, please be quiet!” – Duh, maaf. Kami terbiasa jam 7 pagi sudah rapi, sarapan nasi uduk di warung tenda depan kantor, Madam!

***

Hari pertama di Marrakech kami mengunjungi Bahia Palace. Bagus sih, tapi karena sebagian peserta trip ini sudah pernah ke Iran, jadi Bahia Palace tidak membuat kami histeris mengagumi keindahannya.

Lalu ke El-Badi Palace (El-Badia Palace), konon dulunya adalah istana yang dibangun Sultan Ahmad Al-Mansur dari dinasti Saudi pada abad ke-16. Pembangunan istana ini didanai dengan tebusan yang dibayarkan Portugis. Beberapa bagian dari kompleks istana ini telah rusak, entah oleh waktu atau peperangan. Kolam kembar di tengah kompleks masih terawat, begitu pula bagian utama istana. Namun saya tidak masuk karena masih kelelahan. Di bagian bawah ada bekas-bekas lantai mozaik yang tak lagi beratap. Bagian yang masih tersisa dipakai untuk ruang pajang benda dan foto bersejarah.

(foto menyusul ya)

Hari itu rencananya kami menunggu sunset di rooftop sebuah kafe yang terkenal, Cafe du France. Namun sayangnya kafe itu selalu penuh turis. Harus tricky untuk mendapatkan seat pewe di waktu sunset. Kami masuk dan mengantri tempat duduk sekitar 1 jam sebelum sunset. Memesan minuman secukupnya dan menyeruputnya sedikit demi sedikit, karena kalau minuman sudah habis kita akan disuruh bayar dan secara halus dipersilakan hengkang! Hahaha.. yang paling murah tentu saja pesan teh mint khas Maroko. Kami minum sampai 2 gelas hingga akhirnya sunset pun tiba.

Keriuhan Jama el-Fna meningkat seiring datangnya malam. Lampu-lampu mulai dinyalakan saat langit memerah dan matahari terbenam. Adzan maghrib terdengar mendayu dari masjid yang berada di depan cafe. Sungguh pemandangan yang luar biasa!

Selesai sunsetan, tentu saja kami ingin mencoba kulineran Marrkech yang tersohor senatero dunia. Mulai dari aneka seafood, barbecue daging sapi, ayam, dan kambing, aneka masakan dari kepala kambing, jerohan, olahan berupa sosis dan lain-lain. Semua terhampar di ratusan tenda yang berjajar rapi dengan signboard nomor tenda masing-masing. Tiap tenda punya orang yang bertugas memegang kertas menu dan menawarkan pada setiap pengunjung untuk mampir ke tendanya. Duh, kalau begini rasanya 2 malam jadi nggak cukup!

Sayangnya, Madrasa Ben Youssef yang terkenal dengan kaligrafi timbul di dindingnya itu sedang direnovasi 😦 – jadi kami tak bisa melihatnya. Ya, maybe next visit..

Hari kedua di Marakkech kami isi dengan memasak bala-bala. Pagi-pagi saya dan Luthfi aka Upil berangkat dengan semangat 45 ke pasar. Ehh, muter sana sini kok masih sepi dan tutup. Sungguh, orang Maroko ini sepertinya tidak suka bangun pagi. Tak satu pun penjual lontong sayur dan nasi uduk terlihat di jalan. Bandingkan dengan Jakarta! Jam 5 pun sudah ada yang jual sarapan dan gorengan.

Setelah hampir 1 jam berputar-putar Jama el-Fna tanpa ketemu satu manusia pun yang bisa ditanya, akhirnya kami ketemu seseorang yang membawa telur di sepedanya. “Mang! Mang! Beli telur teh di mana?” tanya Upil. Berasa di Cimahi, euy! Ternyata, Gaes.. pasar di Maroko ya nggak sama dengan pasar di Indonesia. Kalau di sini satu pasar isinya segala macem tumplek bleg dari terasi sampe beha, dari ayam sampe toko emas, di Maroko pasarnya tematik. Iya, tematik. Satu pasar khusus ayam, telur, daging. Satu pasar khusus ikan dan penghuni laut lainnya. Satu pasar khusus sayur dan buah berikut beras, tepung, minyak dll. Repot ya? Iya, tapi mungkin lebih higienis.

Singkat cerita yang nggak singkat, akhirnya saya dan Upil berhasil membawa pulang sosis sekilo, terigu, minyak goreng, daun bawang, wortel, kol, bawang putih, telur, dan garam. Jangan tanya gimana kami belanjanya ya, ribet! Kita bilang minta flour sama salt aja mereka geleng-geleng. Thank you, Google Translate!

Siang itu kami makan siang sosis bakar dan bala-bala, plus Tagine bikinan tuan rumah dan pacarnya yang asal Jepang, Sawa. Yeay!

(foto menyusul ya)

Sorenya kami kelilingan kota Marrakech. Kota modern-nya bukan medina (kota tua), yang ternyata ya penuh dengan pertokoan modern kayak di kota-kota besar lainnya. Sungguh kontras rasanya suasana medina dengan kotanya, padahal berada di satu kota; Marrakech.

Keesokan harinya pagi jam 7 kami menumpang taxi dari riad ke terminal bus di dekat stasiun. Dari pangkalan bus ini, kami akan berkendara ke arah barat menuju pesisir negeri maghribi yaitu kota Essaouira.

Cerita tentang Essaouira ada di SINI

Cerita keseluruhan di Maroko dimulai di SINI

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s