Begini jika Ouarzazate dituliskan dalam huruf Berber: ⵡⴰⵔⵣⴰⵣⴰⵜ

Catatan: Bangsa Berber adalah etnis asli daerah Afrika Utara yang menghuni timur Lembah Nil. Mereka menggunakan bahasa Berber, yang merupakan cabang dari bahasa Afro-Asia. Populasi orang Berber sekitar 14-25 juta jiwa yang kebanyakan tinggal di wilayah Maroko, Tunisia, Libya, dan Algeria (Aljazair).

Ouarzazate merupakan istilah yang berarti gerbang menuju gurun, dan ibukota provinsi Ouarzazate yang berada di lembah Draa. Perjalanan dari Fes menuju kota ini memakan waktu 10 jam lebih, melalui beberapa kota yang bermacam. Belum satu jam ke arah selatan, kami berhenti di kota Kandar untuk sarapan dan membeli bekal untuk di jalan. Perjalanan ke selatan artinya akan menyisir punggung Pegunungan Atlas di bagian timur, dan melalui jalan-jalan di ketinggian yang dingin. Kami sarapan telur ceplok yang dimakan dengan roti (khobz) dan dicelup kuah sup berwarna kehijauan. Tentu saja ditutup dengan chai (teh) panas rasa daun mint.

Kami membeli perbekalan aneka roti dan beignet hangat, juga keju. Minuman pulpy jeruk di sini merk-nya Rani, dan sebotol besar satu liter harganya hanya 8-10 Dirham!

Satu jam kemudian kami melalui dan berhenti di Ifran, kota cantik di ketinggian Pegunungan Atlas, yang penuh dengan vila dan bangunan mewah bergaya Eropa. Di saat musim dingin, kota Ifran akan bersalju tebal layaknya di Eropa. Oleh karenanya kota ini sangat terkenal sebagai destinasi wisata. Jadi tahu kan kenapa kita sarapan pagi buta di Kandar? Yup! Sarapan di Ifran akan membuat kocek jebol! Hahaha..

Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil foto, karena pemandangan Pegunungan Atlas di sisi kanan jalan sungguh indah. Pegunungan memanjang dengan lekuk-lekuk warna putih salju berkilau diterpa sinar matahari, dengan foreground domba-domba gemuk sedang merumput.

Beberapa kali juga kami dapati mobil-mobil karavan melintas di jalanan mulus, juga motor-motor besar yang dikendarai turis berkulit putih.

(foto menyusul)

Kami juga berhenti saat melintasi perkebunan jeruk Maroko. Jeruk di sini berwarna kuning tua, dengan rasa manis segar, tanpa biji pula! Dan harganya hanya 6 Dirham sekilo! Ya, 9 ribu rupiah sekilo.

(foto menyusul)

Jalanan panjang berliku, teman-teman banyak yang tertidur lelap sebab jalanan yang mulus nyaris tanpa lubang. Saya duduk di sisi Alaa (driver) sehingga lebih banyak menikmati pemandangan puncak-puncak bukit bersalju, meskipun harus mengernyit silau.

Beberapa kota kecil kami lewati, perut sudah mulai lapar minta diisi karena sudah jam 2 siang. Kadang pas lewat kota, warung-warung yang ada tampak sepi dan tak menarik. Tapi begitu kita melewatkan keramaian, maka jalan panjang sepi akan menanti untuk 1-2 jam berikutnya. Akhirnya kami menemukan tempat makan selepas gerbang kota Errachidia. Makan berduabelas dengan menu Tajine dan beberapa porsi daging panggang, menghabiskan 750 Dirham. Yasudahlah, namanya juga lapar.

Menjelang sore kami berhenti di sebuah toko dan pengolahan air mawar di Kaalat M’Gouna, kota yang berada di Lembah M’Gouna atau Vellee des Roses, yang aslinya bernama Lembah Oued Dades. Kota ini terkenal dengan perkebunan mawar dan pengolahan air mawar yang konon sudah ada sejak Perancis masih menguasai Maroko. Ada banyak oleh-oleh yang bisa dibeli di sini; air mawar, lotion beraroma mawar yang mengandung minyak argan, lulur, celak, sabun batangan, dan lain-lain. Oya, tentu saja harganya ditawar dulu ya, makin banyak beli biasanya makin murah.

Malam hari kami sampai di Ouarzazate, dan beruntung dapat harga promo, sehingga kami bisa menginap di hotel Oscar Studio, yang artinya kami dapat free tour keliling studio keesokan harinya! Oscar Studio adalah studio film yang banyak dipakai untuk pembuatan film-film terkenal. Di lobby hotel dipajang film-film yang mengambil gambar di Oscar studio.

(foto menyusul)

Studio film di belakang hotel ternyata tak begitu luas. Dan property shooting itu ternyata terbuat dari bahan-bahan yang ringan dan rapuh. Yang paling mencolok adalah setting bernuansa Mesir. Namun juga ada setting bernuansa Chinese Tibetan. Seru untuk foto-foto dengan background yang tak biasa

Agak siang kami menuju Ait ben Haddou, dalam tulisan Berber: ⴰⵢⵜ ⵃⴰⴷⴷⵓ

Ait ben Haddou adalah desa/kasbah dalam benteng yang terbuat dari tanah liat merah bercampur jerami kering. Saat ini sepertinya desa tua itu tidak lagi ditinggali dan difungsikan sebagai toko souvenir atau rumah untuk dilihat-lihat turis dengan tiket 10 Dhs per orang. Kita bisa masuk rumah dan naik hingga ke atas untuk menikmati pemandangan kasbah dari ketinggian.

Cara memasuki kasbah yang mainstream adalah melalui jembatan yang dibangun di era modern untuk mempermudah akses turis ke kasbah. Namun jika Anda ingin memasuki dengan cara lama, bisa melipir ke kanan tepat sebelum jembatan lalu menyusuri tepian sungai. Ait ben Haddou lebih eksotis dilihat dari tepian sungai ini. Jika beruntung datang pagi/sore mungkin bisa mendapatkan refleksi kasbah di air sungai.

Dari tepi sungai kita harus menyeberang sungai untuk memasuki kasbah. Tenang, takperlu takut becek-becek karena ada karung-karung pasir yang disusun memotong sungai. Hati-hati, jangan sampai terpeleset.

Di Ouarzazate ada tempat makan di tengah kota yang sangat recommended, menyajikan daging sapi, domba, ayam, sosis (boleh mixed) dengan harga per kilogram. Daging panggang dimakan dengan kentang goreng, tajine, dan salad. Makan gila berduabelas hanya bayar 380 Dirhams saja. Rasanya juga top!

(foto menyusul)