casa - chef
Casablanca to Chefchaouen, 338 km

Pesawat Air Asia dari KL mendarat pagi di Casablanca, jam 08:00 tepat tanpa delay. Setelah beres urusan imigrasi, bagasi, kami segera mencari penukaran uang cash (untuk yang membawa bekal dollar dan Euro) dan ATM. Nilai tukar cash di bandara lebih rendah daripada di penukaran uang di kota. Untuk gampangnya 1 Dirham Maroko = RP 1,500,-

Setelah memegang Dirham kami mencari counter SIM card yang membagikan kartu secara gratis pada tourist, hanya perlu data paspor dan SIM card diberikan gratis. Counter SIM card juga melayani top up paket internet dengan harga 50 Dhs untuk 5Gb dan 100 Dhs untuk 10 Gb.

Keluar dari airport kami langsung menyisir jalan ke utara, menuju Chefchaouen. Jaraknya 338 km, perkiraan kami 5 jam sampai. Jika start jam 10 kira-kira jam 3 sampai. Namun ternyata kendaraan penumpang di Maroko diawasi sangat ketat. Di kendaraan terpasang alat perekam seperti disc kertas yang mencatat kecepatan kendaraan dalam bentuk diagram. Di beberapa titik jalan tertentu ada polisi yang melakukan pemeriksaan, untuk memastikan penumpang dibawa dengan kecepatan aman. Sehingga jarak 338 km ditempuh selama 7 jam!

Jam 5 sore, menjelang maghrib kami tiba di perbatasan kota. Ada sebuah view points sebelum memasuki kasbah, yang bisa dipakai untuk menikmati kota biru dari kejauhan. Kasbah adalah sebutan untuk kota tua, yang juga disebut dengan citadel.

Chefchauen adalah kota di Pegunungan Rif di bagian barat daya Maroko, sebelah tenggara Tangier (kota pelabuhan berbatasan dengan Spanyol). Terkenal dengan warna biru yang mewarnai hampir seluruh dinding kasbah. Jalanan di dalam kasbah kebanyakan sangat sempit dan berkelok naik turun. Sehingga kendaraan roda 4 harus diparkir di luar kasbah, selanjutnya perjalanan ke homestay dilanjutkan dengan jalan kaki.

Ya, ransel/carrier harus digendong masing-masing pemiliknya. Untungnya dari tempat parkir ke homestay hanya sekitar 800-900 meter saja.

Rembang petang, masih ada sedikit cahaya matahari kami menyusuri lorong-lorong kasbah sambil mencari ganjal perut. Hari makin gelap, dan warna biru terlihat makin pekat. Lampu-lampu mulai dinyalakan, orang-orang melintas sambil merunduk menghindarkan wajah. Orang Maroko tidak suka diekspos dengan foto. Menurut Rani, ada keyakinan bahwa orang yang sering difoto akan pendek umur. Bahkan anak-anak kecil yang biasanya suka difoto, banyak yang menghindar saat dihadapkan kamera. Ada yang tak menghindar sih, tapi lalu minta bayar, hahahaha. Baiknya bawa permen banyak-banyak dari kampung buat “bayar” anak-anak berpose.

Di Chefchaouen ada sebuah toko parfum padat yang sangat eksotis, lokasinya dekat alun-alun kota. Seluruh toko berisi aneka parfum dalam bentuk potongan dengan warna-warni meriah. Memasuki pintu toko, segera tercium aroma wangi menguar memenuhi ruangan. Parfum aneka aroma itu dijual per kilogram, kita bisa memilih balok-balok wangi itu lalu ditimbang bersamaan. Ada juga balok-balok yang sudah dikemas dengan harga tertentu. Harga parfum padat di toko ini termurah, dengan kualitas terbaik dibanding dengan kota lain. Di toko ini juga menjual minyak argan dalam botol, yang setelah dibandingkan dengan kota lain harga di sini paling murah. Meski kualitas terbaik konon adalah minyak argan Essaouira (termahal juga, hahahaha!)

Pagi hari sekitar jam 7 adalah saat terbaik memotret Chefchaouen, warna biru ditimpa cahaya yang belum terlalu harsh, jalanan yang masih sepi dari turis (turis biasanya bangun siang), dan ada penjual beignet (semacam donat goreng) murah di beberapa tempat yang kita bisa beli untuk sarapan.

(pictures will uploaded very soon)