Beberapa hari lalu, dalam perjalanan pagi menuju sekolah Si Mas (15 tahun).

 

Mas       : “Jamaah haji udah mulai berangkat ya?”

Ibuk       : “Udah dari beberapa hari lalu”

Mas       : “Buk..”

Ibuk       : “Hmm..”

Mas       : “Aku ini kan udah berpenghasilan. Takutnya aku udah wajib haji. Dan itu wajib kan, meski sekali? Kalo aku nabung mulai sekarang, kapan kira-kira pergi hajinya, Buk?”

Ibuk       : “Ntar Ibuk bayarin aja, toh bayar sekarang antrinya masih 17 tahun lagi. Berarti kira-kira umur 32 kamu baru bisa pergi haji. Seumuran Ibuk waktu pergi haji dulu.”

***

Konon kata orang bijak, where there is a will there is a way. Di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Begitu juga ketika awal tahun 2006 dengan uang pas-pasan saya dan suami mendaftar ONH. Duitnya ngepas pas hanya cukup untuk membayar minimum pembayaran agar mendapatkan nomor porsi. Utang masih ada di beberapa pos, sedangkan cicilan rumah juga belum lunas. Gaji berdua juga jumlahnya segitu-gitu aja, tanpa penghasilan tambahan.

Kami ingin pergi haji selagi muda. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena ingin menyegerakan tunainya kewajiban pokok sebagai muslim. Kami tak ingin menunggu hingga punya rumah megah dan mobil mewah. Tak ingin pula menunggu hingga anak selesai kuliah. Sebab syarat pergi haji adalah “bila mampu”. Bagi kami, kata mampu artinya bisa memenuhi kebutuhan pokok; sandang, pangan dan papan. Tak disebutkan syarat harus punya kendaraan, tak ada pula syarat harus berilmu agama tinggi, atau syarat telah berumur tua.

Jadi untuk memenuhi kriteria “mampu” pada persyaratan pergi haji, selain modal niat kami juga menyiapkan planning. Dibuatlah timeline panjang dari awal 2006 sampai pertengahan 2007. Targetnya semua utang dan cicilan rumah lunas tuntas sebelum pergi ke tanah suci. Maka tahun 2006 menjadi tahun yang ketat, tak boleh ada kebocoran agar planning tidak berantakan.

Pertengahan 2007 kami mendapat kepastian keberangkatan bulan November 2007, sehingga harus membayar biaya pelunasan. Belum lagi persiapan bekal ini itu, baju dan uang saku. Tapi syukur alhamdulillah, beberapa minggu sebelum keberangkatan semua utang telah lunas sesuai rencana. Cicilan terakhir rumah ke Opung terbayarkan sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan. Rejeki datang dari mana saja, salah satu yang saya ingat adalah 5 lembar uang saku dari kenalan suami. Sebab itulah yang akhirnya menjadi uang jajan kami selama ibadah haji. Hahaha..

Waktu itu minat pergi haji tak se-booming sekarang. Sehingga antriannya pun tak sampai belasan tahun seperti saat ini. Entah ekonomi yang membaik ataukah minat pergi haji melonjak tinggi?

Maka sekarang ketika Si Mas sudah ada niat ingin memenuhi kewajibannya sebagai muslim, rasanya tak tega membayangkannya menabung beberapa tahun lalu kemudian harus ditambah lagi menunggu belasan tahun. Mungkin harus dikasih bocoran, bahwa setelah niat ia punya waktu sekitar 17 tahun untuk memampukan dirinya.

Bukankan bunyinya “pergi haji bila mampu”, bukan “bayar biaya haji bila mampu”? Jadi boleh lah bayar sekarang, tapi mampunya diupayakan sampai 17 tahun ke depan! 😉

Tulisan tentang pengalaman dan gambaran Haji:

https://wordpress.com/post/katasimami.com/994

 

Tangerang, 24 Agustus 2017 (2 Dhulhijah 1438H)

Candra

#haji #story

image1

Itu foto Haram saat masih ada Sofitel dan Pasar Seng di ujung bukit Marwa, yang digusur tahun berikutnya untuk perluasan masjid