Indonesia ini negeri dengan beragam makanan khas yang selain enak rasanya, juga unik. Unik itu artinya khas, dan tidak ditemukan di tempat lain. Tapi eh, dengan makin tersebarnya outlet cabang di berbagai kota, booming-nya toko online, dan makin canggihnya jasa pengiriman antar kota antar pulau, keunikan itu mulai surut. Entah ini kenyataan bagus atau sebaliknya, kita bisa mendapatkan berbagai makanan khas daerah hanya dengan berselancar dan bertransaksi online di tempat kita. Mulai gudeg, bakpia, bika ambon, sambal ikan roa, rendang, sate bandeng, pempek, bluder, semua tersedia di layar ponsel.

Mau Gudeng Yu Djum?

Bika Ambon Zulaikha?

Napoleon Medan?

Bakpiah Pathuk?

Bluder Cokro?

Pampek Candy?

Semua bisa didapat tanpa beranjak dari sofa Anda!

Beberapa hari lalu saya bingung ketika ditanya mau oleh-oleh apa dari Medan. Apa ya? Bahkan ketika saya terpaksa googling Top 5 Oleh-Oleh Medan jawabnya adalah:

  1. Bolu Meranti
  2. Bika Ambon Zulaikha
  3. Napoleon
  4. Durian Ucok
  5. Pancake Durian

Semua bisa diorder di toko online dan dikirim saat itu juga atau keesokan harinya. Kan jadi kasihan yang bawa oleh-oleh ya, repot nentengnya padahal bisa didapat dengan lebih mudah.

Setelah menelusuri jagad  maya lebih jauh, akhirnya mata tertumbuk pada petunjuk Sate Kerang Rahmat. Kata penulisnya, rugi ke Medan kalau belum ngerasain sate kerang!

Saya yang asli Jawa Timur, memang tak asing dengan sate kerang. Dulu waktu kecil, pergi naik kereta api yang ditunggu bukan kapan sampainya. Tapi kapan tukang jual sate kerang naik ke gerbong dan menjajakan dagangannya. Sate kerang kecil-kecil (biasanya kerang darah yang seperti logo Shell) ditusuk dengan lidi 15 cm dibungkus daun pisang yang dilipat menyerupai kantong. Kadang zonk, karena daun dilipat tebal-tebal padahal satenya super imut. Di Jawa Timur, sate kerang dibumbui minimalis, jadi penampilannya seperti direbus saja meskipun rasanya gurih asin manis.

Nah, Sate Kerang Rahmat ini bumbunya beda. Ada bumbu mlekoh yang menempel di kerangnya sepintas mirip bumbu rendang, tapi rasanya beda. Mungkin ini masakan Medan gagrak Melayu? Entahlah, perlu penelusuran jauh untuk menyimpulkan itu. Selain gurih dan berempah, ada jejak rasa manis pada rasanya. Kerangnya pun terasa empuk dan bersih. Nikmat sekali dimakan setelah dihangatkan, baik digadoin maupun dengan segunung nasi putih hangat! Endess..

Satu tusuk sate dihargai RP 5,000 dan hanya bisa take away, tidak bisa makan di tempat. Boks yang dipakai membungkus sudah berlapis aluminum foil dan dilapis daun pisang untuk menghindari rembesan bumbu, agar aman dibawa jarak jauh. Tiap box muat diisi 20-25 tusuk sate.

Dulu, tempat tinggal Pak Rahmat adalah pusat penjual sate kerang, hingga disebut Gang Kerang. Namun saat ini tinggal Pak Rahmat yang konsisten meneruskan usaha keluarganya. Kerang diambil dari daerah Tanjung Balai yang menurut Pak Rahmat bebas dari pencemaran, sehingga kerangnya tak terpapar polusi. Kerang pun dibersihkan dengan sangat hati-hati dan diulang berkali-kali agar tak ada lagi kotoran menempel.

Nah, buat yang mau ke Medan, ternyata ada pilihan oleh-oleh baru jika yang Top 5 sudah terlalu mainstream. Sate Kerang Rahmat bisa dibeli di:

Dapurnya:

Jl. PWS Gg. Kerang No. 24E Medan

Atau di outlet-nya:

Jl. Kruing No. 3D (dekat Bolu Meranti)

Jl. S Parman Simpang Jalan Karo

Telepon: 0812-7008-7209

Ternyata bisa ya makanan rumahan sederhana menjadi oleh-oleh yang layak dibawa. Asal diolah dengan higienis, bumbu yang enak dan konsisten, dan kemasan yang cantik nilai jual makanan menjadi tinggi.

Ayo dong yang hobinya masak, coba olah dan kemas makanannya dengan asik, siapa tau bisa jadi icon kuliner daerahnya..

 

Selamat menyambut akhir pekan!

Candra