Banyak yang membayangkan Tehran adalah kota yang jauh dari modern, akibat embargo Amerika Serikat yang telah berjalan bertahun-tahun. Namun ternyata, kesan pertama pun telah membuyarkan semua bayangan itu. Bandar udaranya tak kalah keren dengan bandar udara negara-negara lain, bangunan luas dan megah dengan struktur besi dan dinding kaca.

airport.jpg

Pemegang paspor Indonesia bisa mengajukan Visa on Arrival di airport begitu turun dari pesawat. Untuk lebih jelas tentang visa, bisa dibaca di sini.

Penting: sesuai dengan ketentuan Republik Islam Iran, seluruh perempuan baik warga Negara Iran maupun turis, baik muslim maupun non muslim wajib mengenakan tutup kepala dan berbaju tertutup selama di Iran. Tutup kepala yang disyaratkan tidak harus tertutup rapat, bukan pula burqa atau chador, tapi cukup syal yang ditutupkan ke rambut meski tak menutup rapat. Perempuan diperbolehkan memakai celana legging semata kaki dengan baju atasan lengan panjang, sebaiknya yang menutup hingga pantat.

Tiba dengan pesawat low cost carrier tengah malam, kami terkejut dengan banyaknya orang yang menyambut para penumpang dengan buket bunga. Mulai yang berbentuk karangan bunga, sampai yang berbentuk seperti kue tart susun! Menyambut kami? Oh, tentu tidak! Adalah hal yang lazim di Iran, untuk menyambut kedatangan keluarga/kerabat di bandara dengan mambawa karangan bunga. Itulah mengapa di tepi jalan dekat bandara banyak mobil yang berubah menjadi toko bunga. Romantis ya?

Karena embargo, tentu saja ATM dengan logo Cirrus, Alto, maupun Master tak berlaku di Iran. Jadi pastikan Anda membawa cash dalam bentuk Euro maupun US Dollar yang cukup untuk akomodasi dan belanja souvenir. Kurs yang berlaku (April 2017) adalah 100$ = 3,740,000 Rials. In case kepepet, beberapa money changer besar menerima credit/debit cards, tentu saja dengan kurs yang berbeda.

Untuk komunikasi, kartu GSM lokal (recommended Irancell) bisa dibeli di airport dengan harga sekitar 5 -15 US$ tergantung paket data yang termasuk di dalamnya. Anehnya, kartu ini rada random.. meski dibeli bersamaan ada yang lancar bisa dipakai FB, WA, IG, dll – namun ada juga cuma bisa dipakai untuk beberapa aplikasi tertentu saja.

***

Bagi saya, Tehran adalah kota yang unik. Beberapa ruas jalan dibiarkan apa adanya, namun di banyak bagian dilakukan pembenahan besar-besaran. Hotel tempat kami menginap berada di Lalehzar Street, jalan lama sempit yang sepanjang kiri-kanannya melulu toko lampu dan alat listrik. Hanya ada satu atau dua kedai minuman, selebihnya adalah toko yang siang malam menyalakan lampu terang benderang. Di jalan-jalan utama, tak terlihat baliho iklan, yang ada malah foto-foto pahlawan berjajar di tepi jalan.

Ada beberapa pilihan transportasi umum di Tehran. Ada bus kota yang mengikuti rute tertentu dan hanya berhenti di haltenya. Untuk naik bus, perempuan mengambil seat di bagian belakang dan laki-laki di bagian depan. Ada pula Metro, kereta bawah tanah yang melingkupi tengah kota Tehran saja. Ada pula angkot, iya angkutan kota warna ijo kayak di Bogor itu, yang tertulis Tour Bus bisa muat sampai 10 orang yang bisa kita carter untuk mengantar ke suatu tempat dengan tarif nego. Ada juga taxi, baik yang berwarna kuning seperti taxi di NYC maupun taxi yang berbentuk mobil pribadi. Lucunya, taxi di Iran ini bisa dipakai patungan asalkan rutenya searah. Jadi jangan heran jika ada taxi sudah berpenumpang tapi masih menawarkan diri.

Saat jam pulang kerja, lalu lintas di Tehran seketika menjadi macet. Di Iran kendaraan disetir di kiri dan jalan di kanan, kebalikan dengan Indonesia. Banyak sopir yang nyetir sembarangan bikin jantung deg-degan. Kadang motor/mobil tiba-tiba belok tanpa memberi tanda terlebih dulu. Namun rupanya itu sudah lazim, buktinya tak sekali pun dalam 10 hari saya melihat ada kecelakaan lalu lintas!

Yang bikin hati riang, di Tehran masih banyak penjual buku, baik yang berupa toko buku (bukan toko besar macam Gramedia ya), maupun yang kios toko buku kecil pinggir jalan. Saya seperti terseret pada mesin waktu saat saya masih SD-SMP, menikmati jajaran buku di sebuah kios buku kecil yang dijaga pemiliknya, bukan karyawannya.

image10
Seakan melihat Rangga di Kwitang – ttd Cinta – hahahaha

Jalanan di tengah kota lebar dan banyak underpass untuk menyeberang. Kadang terbalik, underpass-nya untuk kendaraan dan di atasnya adalah taman dan pedestrian. Taman-taman kecil menghiasi kiri kanan pedestrian sehingga bisa dipakai untuk berlindung dari terik matahari musim semi.

***

Makanan

Bagi pemburu sarapan pagi buta, atau sarapan harus nasi, siap-siap merana di Iran. Sebab di Iran sarapan dimulai paling cepat jam 7.30 – pernah sekali kami ingin memulai jalan lebih pagi dan meminta early breakfast, jawabnya “No”. Pagi hari menu yang disajikan nyaris seragam, roti naan (baik yang tebal dengan taburan wijen, maupun yang tipis seperti serbet), keju Iran (Persian cheese) yang berwarna putih (feta cheese), butter, carrot/cherry/honey jam, telur (rebus atau ceplok atau scrambled with tomatoes), bubur kacang ijo yang rasanya nggak manis kayak burjo. Karena saya kurang suka dairy product, jadi Persian cheese yang katanya enak itu saya skip, ganti dengan selai wortel. Ternyata enak juga wortel dijadikan selai!

image3

Nasi baru bisa ditemui siang hari untuk lunch. Makanan andalan di Iran adalah Kebab with Rice. Nasinya berupa nasi uduk, berwarna putih dan gurih, biasanya di-garnish dengan sedikit nasi kuning dan nasi dengan raspberry yang terasa asam. Kebab adalah daging yang ditusuk dan dibakar, bisa daging domba, ayam, atau sapi. Nasi kebab disajikan bersama tomat bakar, cabe bakar, irisan kol ungu, dan pickles. Ada juga pilihan Ikan Goreng dan Nasi, konon ikannya impor dari Indonesia lho! Selain kebab ada juga kedai yang menjual burger, hotdog, pizza. Tapi, sudah jauh-jauh sampai Iran, buat apa makan burger dan pizza? Hihihi

image71.jpg

Untuk stall take away pinggir jalan harga per porsi sekitar 90,000 Rials = 40 ribu rupiah sudah mendapat nasi, kebab, kentang dan terong goreng, roti naan, tomat dan pickles. Untuk di restoran harga per porsi sekitar 200,000 – 250,000 Rials = 80,000 – 100,000 rupiah.

Ada juga makanan berupa bola-bola nasi, Koofteh Barenji. Lagi-lagi berharap rasanya macam Risotto Cheese Ball, ternyata rasanya juga asam. Pernah sekali saya pesan sop bayam dengan ayam, Ghormeh Sabzi..ouch yang datang bubur bayam bercampur potongan fillet dada ayam. Yang lumayan cucok, Khoresh Bademjan, terong dan daging yang di-stew sampai lunak. Atau Dizi, yaitu gulai kental berisi kacang pistachio dan daging lalu ditumbuk sebelum dimakan bersama roti. Tapi sudahlah, top of the top-nya tetap Lamb Kebab with Rice! Yeay..!

Oya, orang Iran sepertinya suka sekali dengan makanan asam. Pickles atau acarnya memiliki level asam di atas rata-rata. Banyak penjual manisan yang ternyata berasa asam, mungkin namanya asaman! Cemilan yang banyak dijual adalah berbagai macam kacang-kacangan yang gurih dan juga kismis. Karena musim semi telah tiba, cemilan yang paling laris adalah Faloodeh, semacam cendol halus dari tepung beras yang disajikan tanpa kuah, dengan pilihan rasa lemon, saffron, atau pomegranate. This is recommended! Die die must try jika berkunjung ke Iran.

***

What to See in Tehran?

Kami mengawali pagi dengan mengunjungi Masoudieh Mansion.Bangunan yang didirikan tahun 1879 untuk Pangeran Mas’ud Mirza, gubernur Esfahan yang juga putra Shah Nasharuddin, sebagai tempat tinggal di ibu kota. Kompleks seluas 5 hektar ini terlihat sepi dan kurang terawat, mungkin karena sedang ada renovasi di sana-sini. Sebenarnya banyak prasasti dan dokumen yang tersimpan di tempat ini karena banyaknya peristiwa bersejarah terjadi di sini, namun mungkin karena masih kepagian, kami hanya melihat-lihat di areal taman saja. HTM 200,000 Rial/orang.

image1

Golestan Palace. Kompleks istana dengan taman luas yang dibangun dinasti Qajar, terletak tak jauh dari Tehran Bazaar. Tiket masuknya dijual terpisah untuk masing-masing istana. HTM turis untuk tiap istana berkisar 80,000 – 150,000 Rials, sekitar 32,000 – 60,000 rupiah. Di beberapa istana tidak diperbolehkan mengambil gambar dengan kamera, seperti di istana kaca yang menyimpan koleksi hadiah dari negara-negara tetangga. Jika minim budget, sebenarnya tak perlu masuk-masuk ke dalam, apalagi ke semua museumnya, taman-taman dan tembok-temboknya pun sudah cukup heitz untuk latar berfoto.

image7.JPG
HTM tiap Palace
image6.JPG
Golestan Palace

image1.JPG

image4.JPG

image5

Setelah Golestan, sebenarnya saya ingin ke tembok dengan mural anti-Amerika yang dikenal dengan nama US Den of Espionage. Sepotong tembok yang dijadikan prasasti peristiwa 1979 saat mahasiswa menyandera para diplomat AS di kedutaan. Peristiwa ini telah difilm-kan oleh Hollywood dengan judul Argo, tentu saja dengan bumbu rasa Amerika sehingga jauh dari rasa aslinya.

Image result for US Den Espionage
Foto dapat dari googling, karena ga sempat ke sini 😦

Kemudian juga ada Tajrish Bazaar di bagian utara Tehran yang konon lebih unik dan lebih tourist-friendly dibandingkan Tehran Bazaar yang sangat luas. Namun saya tak sampai ke sini.

Yang bisa dinikmati gratis tentu saja adalah taman-taman kota. Apalagi jika datang ke Iran saat musim semi, bunga-bunga bermekaran di mana-mana dengan warna-warna tajam menawan hati. Salah satu taman yang kami kunjungi adalah Laleh Park, yang saat itu dipenuhi kuntum tulip.

laleh
Laleh Park

Bangunan baru yang bisa dikunjungi adalah Milad Tower atau Tehran Tower, yaitu pencakar langit setinggi 435 meter. Pengunjung bisa naik dalam 3 pilihan, yaitu ke lobby atas dengan tarif 120,000 Rials,  atau ke lobby paling atas dengan tarif 250,000 Rials, atau membayar 350,000 Rials agar bisa naik ke lantai paling atas dan menyaksikan atraksi laser di malam hari. Sayangnya, lokasi ini tak terjangkau Metro sehingga harus menyewa taxi dengan tarif 200,000 Rial sekali jalan ke tengah kota.

image8.JPG
Milad Tower
image4.JPG
View from Upper Lobby – Milad Tower
image6
Tulip at Milad Tower

Ada pula tower yang tak sempat saya kunjungi, yaitu Azadi Tower, atau Freedom Tower. Terletak di bagian barat Tehran, monumen ini dibangun oleh Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran yang terakhir untuk menandai 2,500 tahun Imperium Persia.

Destinasi lain di Tehran yang bisa dikunjungi antara lain:

  • Darband, dataran tinggi di pinggiran kota yang konon asik buat ngopi dan ngeteh di sore hari
  • National Museum
  • National Jewellery Museum
  • Jamshidieh Park
  • Tehran Museum of Contemporary Art

***

Tehran kota yang aman, banyak turis dari Eropa, terutama dari Perancis dan Jepang sliweran pagi hingga malam hari. Wanita juga aman berjalan di malam hari meskipun sendiri. Jika tersesat, banyak orang yang dengan ringan tangan berusaha membantu.

Hmm..setelah membaca ini apakah masih terbayang Iran adalah zona perang yang mengerikan? Yang banyak peluru bersliweran? Atau yang situasinya represif dan mengerikan bagi perempuan dan orang asing? Hehehe, ternyata kenyataannya jauh dari itu ya. Iran adalah negara eksotis dengan infrastruktur yang tertata rapi, aman, indah dan nyaman. Yang memiliki peninggalan sejarah tua dan masih banyak terpelihara.

Next city: Qom

Baca juga: Why Iran?