Episode 1: Masa Kecilku

Aku lelah bertarung dengan kesulitan sejak kecil hingga sekarang. Ingin rasanya aku menyerah dan membebaskan diriku dari segala kesulitan yang terus membelenggu. Aku lelah dan ingin menyerah..

Sejak aku bisa mengingat, hidupku kenyang akan pengabaian. Saat aku berumur 7 tahun, ayah dan ibuku meninggalkanku di rumah Nenek di Garut. Entah ke mana ayah dan ibuku pergi, mereka tak merasa perlu untuk memberi tahu aku, yang mungkin dianggap masih terlalu kecil. Seolah aku tak punya rasa sedih, rasa takut, dan kecewa ditinggalkan untuk hidup bersama Nenek dan keluarga Bibi.

Aku tidak tahu kenapa Bibi selalu kesal padaku. Tapi sejak aku tinggal bersama mereka, tiap hari omelan panjang selalu dimuntahkan padaku. Semua yang aku lakukan selalu salah, tak pernah ada yang menyenangkan hatinya. Bibi selalu menemukan alasan untuk menumpahkan amarah padaku. Setiap hari, setiap waktu. Meski aku telah berusaha untuk tidak berbuat salah, meski aku telah berusaha untuk melakukan pekerjaan rumah apa saja yang bisa kulakukan, tetap saja lengkingan Bibi terdengar. Tak ada siapa pun yang bisa kupeluk untuk menangis, selain Nenek yang tak bisa berkata apa-apa jika Bibi sedang murka.

“Suri! Bebal sekali kamu ini disuruh begini saja tak becus!”
“Malas benar kau ini, Suri! Jam segini matamu sudah 5 watt!”
“Cuci piring tak bersih, nyapu tak bersih. Anak perempuan macam apa kamu ini?”
Setiap hari cercaan Bibi menusuk-nusuk telinga.. Dan juga hatiku..

Saat usiaku 10 tahun, saat itu aku baru kelas 4 SD, Ayah datang ke Garut untuk menjemputku. Tak begitu kuingat bagaimana perasaanku saat itu. Senang kah aku dibebaskan dari dunia penuh omelan Bibi? Senang kah aku Ayah datang menjemputku? Tiga tahun lebih tak bertemu Ayah, membuatku bingung harus bersikap seperti apa.

Ayah membawaku ke Depok untuk tinggal bersamanya, dengan istri barunya yang baru saja melahirkan anak Ayah. Namun, seperti lepas dari kandang buaya masuk ke kandang harimau, di rumah ini pun suasana tak pernah menyenangkan. Ayah dan istri barunya selalu bertengkar tentang masalah apa saja. Setiap hari pertengkaran terjadi hingga kupingku menjadi kebas.

Hingga suatu hari, pertengkaran sengit itu berakhir dengan perginya Ayah dari rumah. Lagi-lagi, aku bukanlah anak yang perlu dipamiti, ditinggalkan begitu saja bersama ibu tiri yang tak pernah menyayangiku. Tentu saja ibu tiriku keberatan merawatku, sedangkan ayahku telah meninggalkannya begitu saja. Aku pun diantarkan ke rumah Uwak, kakak Ayah yang tinggal tak jauh dari situ.

Bagai barang yang tak diinginkan siapa pun, Uwak menawarkanku kepada siapa saja kenalannya untuk dirawat. Sebab Uwak pun tak sanggup untuk merawat dan membiayai sekolahku.

Selepas naik kelas 6 SD akhirnya Uwak menemukan keluarga yang mau merawat dan menyekolahkanku. Meski ayah angkatku ini baik, namun ibu angkatku tampak sekali membenciku. Aku hidup dalam rasa haus kasih sayang. Hari-hariku selalu penuh kesedihan dan ketakutan. Hingga setahun kemudian aku lulus SD dengan nilai yang sangat bagus, dan diterima di SMP favorit. Namun ibu angkatku menolak untuk membiayai sekolahku.

Aku sangat sedih dah kecewa, karena aku ingin melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Dengan perasaan hancur aku mencari-cari sendiri keluarga lain yang mau menampung dan membiayai sekolahku. Saat itu usiaku baru 12 tahun, saat teman-teman sebayaku bergembira dengan sekolah baru, seragam baru, sepatu baru. Aku malah sedang mencari keluarga baru yang mau menampungku.

Akhirnya sebuah keluarga berada mau menampungku di rumah mereka dan membiayai sekolahku. Pasangan suami istri ini sangat baik kepadaku. Meskipun aku tak sepenuhnya diperlakukan seperti anak sendiri, tapi mereka tidak berlaku kasar atau semena-mena.

Namun kenyamanan ini pun tak berlangsung lama. Mbak Asih, pembantu di rumah keluarga ini entah kenapa membenciku. Tiap kali tanpa sepengetahuan majikannya ia memarahiku habis-habisan tanpa memberi tahu kesalahanku. Tiap hari dengan sinis ia menyindir-nyindir agar aku sebaiknya pergi dari rumah itu. Tak tahan dengan kejudesan Mbak Asih, aku pun pamit meninggalkan rumah itu.

Kutemukan keluarga sederhana yang mau menampungku karena iba. Meski hidup tak berlebihan mereka mau memberiku tempat untuk meluruskan badan di malam hari. Meski dengan lauk sederhana mereka mau membagi makanan denganku.

Tiap kali hidupku berjalan melandai, selalu saja rintangan datang. Orang tua angkatku yang hanya pedagang kecil itu tiba-tiba gulung tikar, usahanya bangkrut. Dengan sangat berat hati mereka memintaku untuk kembali saja ke Garut selepas kenaikan kelas. Hidupku kembali guncang.

Selepas kenaikan kelas Uwak menjemputku untuk diantarkan ke rumah Nenek di Garut. Namun ternyata Uwak hanya mengantarkanku sampai terminal Depok saja, lalu menitipkanku ke sopir dan kenek bus jurusan Garut. Isakku tertahan dalam ketakutan dan kesedihan. Belum pernah aku bepergian sejauh ini sendirian.

“Pak Sopir akan menjagamu dan mengantar kamu sampai ke rumah, Suri. Duduk diam saja di situ sampai Pak Sopir memintamu turun. Mengerti?” Aku hanya mengangguk meski tak sepenuhnya mengerti.

Tepat jam 12 malam, bus tiba di terminal Garut. Terminal telah sepi, sebab bus hanya menurunkan penumpang lalu segera pergi. Melihatku kebingungan, sopir mengajakku makan di sebuah warung. Namun karena ia harus pergi lagi, dititipkannya aku ke pemilik warung makan agar ditumpangi tidur sampai pagi. Esok harinya, ibu pemilik warung menyerahkanku pada kenek yang ikut bus semalam untuk diantarkan ke rumah Nenek. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga aku di rumah Nenek.

***
Episode 2: Ketika Aku Dewasa

Aku tinggal bersama Nenek di Garut hingga lulus SMP, dan melanjutkan sekolah ke SMK. Ketika kakak perempuanku akan menikah, Ibu pulang ke rumah Nenek di Garut. Menunggu kedatangan Ibu yang sudah hampir 9 tahun tak bertemu membuatku bertanya-tanya. Apakah Ibu rindu padaku? Apakah ia masih mengingatku? Apakah ia akan gembira bertemu lagi denganku?

Ternyata saat Ibu tiba, ia tak mengenaliku sama sekali. Ia tak tahu bahwa gadis yang menunggunya dengan senyum lebar di depan pintu itu adalah anak kandungnya. Aku kecewa dan sedih. Hatiku hancur tak terkira. Rupanya memang tak seorang pun di dunia ini menginginkanku. Kusingkirkan kecewaku, toh aku masih punya Nenek yang menyayangiku.

Tapi tak berapa lama, Nenek meninggal dunia. Tempat aku bersandar saat sedih, tempat aku bercerita dan berkeluh kesah akhirnya pergi. Duniaku kembali runtuh bersamaan dengan dikuburnya Nenek. Aku melanjutkan hidup tanpa siapa pun mendampingi.

Setahun setelah lulus SMK aku pun menikah. Pernikahan yang kuimpikan akan memberikanku surga yang lama kudamba ternyata penuh dengan duka lara. Masih baru kami menikah, ipar-ipar yaitu saudara-saudara suamiku menunjukkan suasana permusuhan. Mereka tidak menyukaiku karena aku berasal dari keluarga berantakan yang tak layak menikah dengan adiknya. Mereka menginginkan adik yang mereka sekolahkan tinggi mendapatkan istri dari keluarga baik-baik. Bukan seperti aku yang miskin dan masih belia.

Hidupku bak drama telenovela.

Setelah aku menikah, Ibu yang dulu meninggalkanku dan melupakanku itu tiba-tiba jadi rajin menyambangiku. Tiap kali datang ke rumah kami Ibu selalu punya alasan ini itu untuk meminta uang. Aku yang tidak bekerja dan hanya mengandalkan uang belanja dari suami menjadi kelimpungan tiap kali Ibu datang. Suamiku pun sebenarnya tak suka dengan ulah Ibu, sebab suamiku tahu benar bahwa Ibu tak pernah membesarkanku, tapi mengapa sekarang selalu datang padaku.

Jika aku tak memiliki uang untuk Ibu, dan itu karena aku benar-benar sedang tak memiliki uang, ia akan marah-marah dan memakiku sebagai anak tak tahu balas budi, anak durhaka. Betapa aku terjepit dilema, sebab jika aku terus menerus meminta uang pada suamiku, akan runyam pula rumah tanggaku.

Di mana pepatah kasih ibu sepanjang jalan itu nyatanya?

***

Episode 3: Jalan Berliku

Tuhan menguji hidupku sekali lagi. Setelah 10 tahun menikah, kami tak kunjung diberikan momongan. Segala upaya kami tempuh namun tak juga ada tanda-tanda aku hamil. Setiap hari aku hanya sendiri di rumah saat suami bekerja, dan itu membuatku jenuh. Kuajukan ide pada suamiku agar aku diperbolehkan bekerja, namun ia tak setuju. Kuajukan diri untuk menyibukkan diri dengan kuliah, ia pun menolak. Meski sudah kucoba meyakinkan bahwa aku ingin kuliah dan menjadi guru seperti cita-citaku dulu, ia tetap menolak memberikan izin.

Hasratku pada pendidikan dan cita-citaku menjadi guru harus kukubur dalam-dalam.

Kejenuhan dan kekesalan karena tak diizinkan memiliki aktivitas membuatku merasa jenuh dengan perkawinan yang kujalani. Kehidupan yang begitu-begitu saja membuatku dan suamiku sering tersulut emosi. Dalam hati aku terus saja merutuki suami yang tak mau mendukungku meraih mimpi. Hingga akhirnya aku meminta untuk pisah ranjang.

Mendengar kegaduhan keluarga kami, ipar-iparku merasa girang. Mereka merasa mendapat kesempatan untuk menyingkirkanku. Suamiku terus dibujuk agar segera menceraikanku secara resmi ke Pengadilan Agama. Namun suamiku menolak, ia hanya menjatuhkan talak 1 padaku.

Selang 7 bulan dari peristiwa itu, aku dan suami kembali rujuk. Tentu saja hal ini membuat keluarga suami tidak senang. Usaha mereka untuk menyingkirkanku kembali menemui jalan buntu. Di tengah kisruh keluarga ini, aku pun hamil. Namun kehamilanku tak menyurutkan usaha keluarga suami untuk memisahkanku dari suamiku. Berulangkali SMS yang isinya tak menyenangkan kuterima. Bahkan ketika suamiku kecelakaan dan mengalami patah tulang sehingga tak bisa bekerja sebulan, tak seorang pun keluarga suami mengulurkan bantuan. Aku harus pontang-panting sendirian dalam kondisi hamil. Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau berikan?

Anak pertama kami harus dilahirkan dengan operasi sesar yang tentu saja dengan biaya besar. Rania lahir setelah 10 tahun lebih penantian kami. Beberapa bulan setelah ulang tahun pertama Rania, aku dinyatakan hamil lagi. Kehidupan ekonomi kami yang belum stabil setelah suami kecelakaan dan operasi sesar, kembali membuatku hamil dalam kondisi cemas. Hidup pas-pasan, anak masih bayi, dan sekarang aku hamil.

Lengkap sudah!

Karena belum lewat 3 tahun dari operasi pertama, anak kedua kami juga harus dilahirkan secara operasi sesar. Kini aku harus merawat 2 bayi sekaligus, sendirian!

***

Episode 4: Rania

Dan entah karena kehamilan yang dipenuhi drama, atau mungkin kelelahan saat hamil, anak pertama kami Rania ternyata memiliki kebutuhan khusus. Rania bagaikan dinamo yang tak lelah bergerak ke sana sini. Jika sedang tantrum ia bisa menangis menjerit-jerit tak henti-henti. Seringkali tingkah Rania yang sulit bersosialisasi membuat tetangga dan anak-anak kecil di sekitar kontrakan kami terganggu.

Aku seperti kembali terseret ke masa lalu, saat masa kecilku dipenuhi penolakan. Demikian juga dengan Rania yang mendapatkan penolakan dari tetangga-tetangga dan anak-anak kecil lain yang mengoloknya. Sering aku berharap agar tetangga kontrakan yang memiliki anak kecil segera bisa membeli rumah dan pindah menjauh dari kami. Agar Rania tak lagi mengganggu mereka, dan mereka pun tak lagi mem-bully Rania.

Beberapa kali Rania pulang ke rumah dengan menangis karena dicubit tetangga. Entah apa yang dilakukan Rania hingga tetangga tega melakukan itu padanya. Aku tak bisa menjaganya sepanjang hari, sebab aku pun harus menjaga Dito adiknya yang juga tak kalah rewelnya.

Seringkali saat Rania pulang dengan menangis meraung-raung aku malah mencubit, menampar, menjambaki rambutnya. Seringkali amarahku tak tertahan melihatnya tak henti mengamuk, sehingga teriakan-teriakan kasarku pada Rania memenuhi petak kontrakan yang kutinggali. Alih-alih amukanku menghentikan Rania dari tantrumnya, malah adiknya pun ikut menjerit-jerit melihatku kesetanan.

Tiap kali selesai badai tantrum di rumah kami, aku menangis sendiri menyesali perbuatanku pada Rania. Melihatnya tertidur pulas karena kelelahan menangis membuatku merasa berdosa telah menghajarnya. Sambil menangisi Rania yang tidur aku sering meminta maaf padanya, dan berjanji tak akan mengulangi kekerasan padanya lagi..

Kadang jika tantrumnya berkepanjangan badan Rania menjadi panas disertai step. Jika itu sudah terjadi aku hanya bisa merutuki diri menyesal telah memukulinya. Tiap kali Rania step aku bersumpah pada Tuhan untuk berhenti bersikap keras padanya, dan meminta Tuhan tidak mengambil Rania dariku.

Namun janji kadang terlalu sulit ditepati. Saat hari panas dan melelahkan, sangat sulit menahan diri untuk tak emosi melihat Rania bertingkah

Aku sendiri bingung dengan perasaanku ke Rania. Betapa aku sangat menyayanginya, gadis kecil yang berwajah lucu. Namun saking sayangnya, aku membencinya karena kemiripannya denganku, tidak disukai, ditolak di mana-mana, sering memaksa, mudah marah dan mudah mengamuk.

Kadang terbersit dalam hatiku, yaa Allah, aku kembalikan saja Rania kepada-Mu. Ambillah Rania kembali pada-Mu, aku tak tahan melihatnya ditolak teman-temannya, aku tak kuasa melihat Rania dibenci orang sekitarnya, aku tak tega melihatnya bermain sendiri tanpa teman, aku tak tega Rania terus-menerus menjadi korban amarahku, ibu kandungnya sendiri..

Aku merasa putus asa dengan hidupku.
Aku merasa sepanjang hidupku tak ada guna, tak ada yang menginginkan.
Aku bukan anak yang baik karena Ibu sering kecewa padaku.
Aku bukan istri yang baik karena membuat suamiku dimusuhi oleh keluarganya sendiri.
Aku bukan ibu yang baik karena tak becus merawat anak.
Aku tak mampu membiayainya terapi..
Aku tak mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anakku.

Seringkali aku ingin lari dan meninggalkan kehidupan yang aku jalani seperti ayah dan ibuku dulu. Tapi apa yag akan terjadi dengan anak-anakku jika aku meninggalkan mereka? Aku tak ingin anakku mengalami hal serupa seperti yang dulu kualami. Tak ingin pahit getirku saat kecil hingga dewasa dirasakan anak-anakku juga. Itulah yang membuatku bertahan, meski rasanya beban hidup ini tak tertanggungkan.

Namun jika mengingat Rania adalah berkah terindah yang kami terima setelah 10 tahun menanti, aku merasa bodoh telah berpikir macam-macam. Aku merasa telah mengingkari berkat yang diberikan Tuhan pada kami.

Namun kegamangan masih menghantuiku. Bagaimana kelak Rania bisa mandiri? Bagaimana kelak ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri? Apa yang akan terjadi kelak saat ia dewasa?
Aku hanya bisa pasrah dan berserah pada Tuhan..

(Ditulis ulang berdasarkan kisah sejati Bunda X, tinggal di Tangerang)