(ditulis saat siang hari bengong menatap kalender hadiah dari restoran Njun Jan)

Banyak dari kita yang saat ditimpa kesulitan lalu mengatakan bahwa kita sedang diuji, kita sedang dicoba..
Tanpa kita ingat dan sadari, seringkali pula kita sendiri yang mengundang-undang cobaan agar datang menghampiri. Kita sendiri yang dengan sadar, atau setengah sadar, mungkin juga khilaf sama sekali mendatangkan ujian seolah untuk men-challenge diri sendiri..

Contoh nyatanya apa?
Misalnya ya kalender meja ini. Kalender hadiah dari Jun Njan ini di tiap lembarnya menampilkan best seller menu. Dan kalender ini dari pagi hingga petang selalu di depan mata secara posisinya di sebelah layar monitor. Godaan? Uhh, banget! Usaha saya untuk menurunkan berat badan 8 kilo saja, tak membuahkan hasil barang se-ons pun!
Buang kalendernya? Atuh sayaaaaang.. saya kalau suntuk suka jadi tenang dengan memandangi foto makanan enak.
Saya mendatangkan dan menyimpan erat cobaan dan godaan saya sendiri.

Begitu pula dengan hal lain. Misalnya teman yang hobinya makan dengan lauk jerohan plus kuah santan kental pula. Sekarang sih happy, masih oke.. tapi nanti saat usia lewat setengah abad terkena sakit, tak lain tak bukan akan disebut sebagai ujian, sebagai cobaan.

Ada pula yang mendatangkan ujiannnya dengan berakrab-akrab dengan orang lain yang bukan pasangannya. Ber-inbox dan ber-video call tanpa topik yang jelas. Nanti saat badai kecemburuan pasangan mengguncang rumah tangga.. Atau saat dirinya tak kuasa menolak hasrat berselingkuh, lalu dikata ujian dan cobaan datang dari-Nya.

Bukankah manusia adalah makhluk rempong yang merasa geer diuji dan dicoba, tanpa menyadari banyak hal adalah akibat keteledorannya? Akibat pendek pikirnya?

Betapa manusia sering menuduh dan melibat-libatkan Tuhan dalam kesulitan akibat perbuatannya?