Berlatar Jepang di tahun 1640-an, saat kegiatan penyebaran agama Katholik mendapatkan perlawanan dari penguasa.

Film dibuka dengan adegan penyiksaan para misionaris oleh penguasa, di sebuah onsen di Nagasaki. Misionaris dipaksa untuk mengingkari keimanan mereka. Sebab bagi penguasa Jepang, agama baru dianggap sebagai gangguan. Diibaratkan oleh Inoue-sama, penguasa distrik Chikugo, bahwa kedatangan Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris ke Jepang ibarat lelaki dengan 4 selir cantik yang bertengkar tiada henti sehingga membuat suasana runyam. Hingga jalan satu-satunya adalah membuang semua selir dan bertahan dengan satu istri dari negeri sendiri.

Garupe dan Rodriques adalah 2 misionaris yang memaksa masuk ke Jepang melalui Makau, untuk mencari pastur senior mereka yaitu Fereira, diperankan oleh Liam Neeson.

Ujian demi ujian terus menghampiri Garupe dan Rodriques sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di Jepang. Keberadaan agama Katholik yang terlarang, membuat kedatangan 2 pastor muda itu harus dirahasiakan. Namun tak ayal keberadaan mereka tercium juga oleh penguasa, sehingga banyak warna desa Tomogi dan Goto penganut Katholik menjadi korban kesemena-menaan penguasa.

Berbagai siksaan keji terhadap warga desa yang dipaksa ingkar, harus mereka saksikan.

Akankah mereka bertahan dalam iman?
Akankah mereka bertemu Bapa Fereira?

Film ini berdurasi sekitar 2,5 jam dengan alur yang panjang dan penuh adegan menyedihkan. Bukan jenis film yang menghibur dan membuat kita relax setelahnya, tapi dari jenis yang membuat alis berkerut di akhirnya. Namun film ini buat saya sangat menarik, hampir mirip film PK, menyisipkan pertanyaan besar pada diri kita tentang ketuhanan dan tujuan kita bertuhan.