Tiga orang wanita pergi ke pantai bersama-sama. Dengan topi lebar masing-masing yang nangkring di kepala. Rambut tergerai ditiup angin membuat leher jenjang mereka tampak makin mempesona.

Mereka lalu memilih lokasi dan menggelar alas duduk di atas pasir, di bawah pohon kelapa yang tumbuh miring. Sambil tergelak dan berceloteh riang mereka membuka bekal makanan. Gossip-gossip tentang cowok ganteng, tentang makanan enak, tentang lagu yang sedang hit silih berganti merentang waktu.

Lalu serentak mereka terdiam bersamaan, dengan tatapan mata tertuju pada satu titik. Seorang laki-laki berbadan atletis, mengenakan celana selutut melintas. Dadanya yang bidang dibiarkan terbuka, seolah memanggil-manggil untuk disandari. Rambutnya yang agak panjang terlihat agak basah, sedang tangan kirinya menenteng papan surfing.

Lelaki itu tersenyum tipis pada tiga perempuan yang terpergok sedang menatapnya. Senyumnya makin lebar saat didapatinya ketiga perempuan itu menutup mulut dengan jengah sambil tersipu. Tangan kanannya melambai sopan, lalu berlalu masuk kafe di dekat situ.

Ketiga perempuan itu saling berpandangan lalu tertawa. Tapi mereka kemudian seolah melupakan lelaki mempesona itu. Mereka kembali sibuk membicarakan model baju dari merek favorit mereka yang kebetulan sama.

“Eh, ganteng ya laki-laki yang pake celana biru muda tadi?” cetus Ani tiba-tiba.

“Yang mana? Yang barusan lewat? Kan pakai celana coklat muda?! Hahaha, biru dari Hongkong!” sahut Betty sambil tertawa. Ani mengerutkan alis tak suka, lalu cemberut terdiam.

“Buta warna ya, kalian! Cowok ganteng yang bawa papan surfing tadi? Jelas-jelas celananya abu-abu! Gimana sih? Saking terpesonanya sampai gak lihat warna celananya apa!” Caca mengakhiri kalimatnya dengan tawa berderai, mentertawakan dua sahabatnya.

Tiba-tiba saja, mereka bertiga yang tadi dengan gembira membicarakan makanan, model baju, harga sepatu, lagu baru sambil tertawa-tawa, kini bertikai sengit tentang warna celana lelaki mempesona. Masing-masing merasa bahwa matanya yang paling sehat dan akurat, sedang dua teman yang lain salah lihat!

Pertikaian tiga perempuan berubah menjadi perang kata-kata. Semua berbicara keras mempertahankan pendapatnya, tanpa mau mendengar sedetik saja pendapat dua sahabatnya. Suara-suara makin meninggi, saling berteriak karena ketika tiga orang berbicara bersama-sama, masing-masing akan berusaha meninggikan suara agar didengar. Namun tak satu orang pun dari ketiganya mau mendengar.

“Hei! Kalian sedang mempertengkarkan apa?”
Suara maskulin yang tiba-tiba terdengar, menghentikan pertikaian ketiga perempuan itu seketika. Senyum lebar lelaki itu menampilkan sederet geligi yang tertata sempurna. Ketiga perempuan itu menjadi gagu, tak mampu bersuara.

“Boleh aku ikut duduk?” tanya lelaki itu. Tanpa menunggu jawaban ia duduk menyender pohon kelapa. Laki-laki itu lalu membuka kaca matanya, lalu menyorongkan tangan untuk bersalaman, “Kenalkan, aku Joe.”

Tiga nona cantik yang masih kikuk itu lalu turut membuka kaca mata masing-masing, dan bersalaman.
“Ani..”
“Betty..”
“Caca..”

Lalu meledaklah tawa ketiganya. Ternyata celana laki-laki itu berwarna putih! Kaca mata merekalah yang membuat warna putih menjadi bersemu seperti warna kaca mata yang mereka pakai; biru, coklat, dan hitam!

Betapa sering kita bertikai, beradu pendapat, mulai dari saling sindir hingga saling unfollow, unfriend, block hanya karena perbedaan “kacamata”. Sesuatu hal yang kita lihat sebenarnya sama, namun perspektif yang kita terima menjadi berbeda. Yang kita butuhkan adalah menurunkan ego kita masing-masing, dan meletakkan kaca mata gelap sementara ke casing-nya.

Betapa sering kita berselisih, akan hal-hal yang sebenarnya tak kita ketahui dengan baik. Hanya membaca sekelebat, dan mendengar sekilas. Betapa seringnya kita mencap orang lain bodoh, buta, sesat hanya karena kita tak memahami pendapatnya. Betapa sering kita mencela keputusan dan perbuatan orang lain, sedangkan kita tak tahu masalah yang dihadapinya, pertimbangan yang mendasarinya.

Tulisan ini dibuat untuk menasihati diri sendiri, dan dibagi siapa tahu bisa diambil pelajarannya.