Perdebatan tentang rokok adalah perdebatan yang lebih tua daripada silang sengketa yang lain. Masing-masing pihak yang mendukung maupun yang di seberangnya tentu memiliki alasannya masing-masing. Jika saya, yang bukan perokok, menuliskan tentang benar salah atau baik buruk merokok tentu tidak menjadi berimbang.

Saya hanya ingin menuliskan satu demi satu, hal apa saja yang dilakukan perokok saat merokok, yang menjadi gangguan bagi orang lain. Sebab, mungkin saja sebagai perokok tidak menyadari hal-hal itu. Bukankah itulah fungsi oposan?

Merokok di Depan Anak Kecil

Beda ya, antara merokok ketika ada anak kecil dengan merokok di depan anak kecil? Memang, merokok ketika ada anak kecil bisa menjadi gangguan terutama buat orang tua si anak. Namun seringkali perbuatan tersebut tidaklah disengaja. Contoh, ketika merokok di teras rumah sendiri, tiba-tiba tetangga bertamu mengajak anaknya.

Sedangkan merokok di depan anak kecil adalah, secara sengaja merokok meskipun sejak awal sudah ada anak kecil di sekitarnya. Pernah suatu waktu anakku yang waktu itu berumur 11 tahun bercerita, “Tadi aku diajak makan bareng Tante A. Dan dia merokok di depanku, di depan teman-temannya. Bau asep!”

Stupid, isn’t she? Kadang nggak ngerti, di jaman yang sudah semaju ini, di pinggiran Ibukota, di mana sudah banyak orang trendy, pintar, modern tapi ada yang tidak mengerti adab merokok. Tak mengerti tentang hak melindungi kesehatan anak dari bahaya asap.

Banyak juga kan kita melihat, bapak-bapak yang sore-sore menggendong anaknya, atau membawa anaknya naik sepeda sambil merokok? Atau bapak-bapak yang merokok di restoran, yang meskipun bebas merokok, tapi ia sedang semeja dengan anak-anak kecilnya.

Merokok di Angkutan Umum

Yang model merokok di angkutan umum biasanya bukan tante-tante seksi, tapi mas-mas yang kalau dikasih tahu baik-baik malah sewot. Biasanya kalau tak ada anak kecil di dalam angkot, saya memilih duduk berjauhan saja. Males njelasinnya kalau si mas merong-merong. Tapi kalau ada ibu hamil atau anak kecil kadang rasanya nggak tega membiarkan makhluk yang sedang rentan untuk menghirup asap bekas pakai.

Kalau yang merokok di angkot biasanya karena tingkat pendidikannya rendah, atau tingkat kesadaran kesehatannya masih minim, atau memang jenis ababil yang baru merasa keren kalau mulutnya mengepulkan asap. Sambil menikmati orang lain menahan napas, menutup hidung dengan telapak tangan, sambil merasakan kepuasan melihat dirinya sejenak berkuasa menindas udara yang menjadi hak orang lain.

Merokok Sambil Nyetir

Rasanya mustahil orang nggak merasa merugikan orang lain, jika saat merokok sambil nyetir lalu dia ketuk rokoknya di luar jendela. Sehingga abunya beterbangan tertiup angin. Tahu kan ke mana abu itu bertiup? Ya, ke belakang! Sedangkan di belakang mungkin sedang ada banyak motor. Sedangkan tak semua pemotor memakai helm dengan penutup wajah. Juga banyak sepeda motor yang membonceng anak kecil.

Pernah mencoba memasukkan sedebu abu rokok ke mata? Belum, kan? Hanya orang bodoh yang mau mencoba, karena bisa ditebak rasanya pedih. Nah, bagaimana jika abu rokok yang diketukkan dari jendela mobil itu terbang dan masuk ke mata orang yang sedang menyetir motor atau sepeda? Berbahaya, bukan?

Kalau mau bertanggung jawab, buang abu rokok ke wadah yang terletak di dalam mobil sendiri.Sediakan wadah untuk menyimpang abu agar rokok yang kau nikmati sendiri itu akibatnya tidak kau bagi ke orang lain.

Pernah dengar kan, kebakaran kios bensin pinggir jalan akibat ada pengendara yang membuang puntung rokok masih membara sembarangan? Itu contoh dari bodohnya sedikit, tapi akibatnya besar!

Yang satu lagi, merokok sambil nyetir motor. Nah ini dodol kuadrat! Sudah pula debunya beterbangan ke mana-mana, plus nyetir motor tangan satu itu mengancam pemakai jalan lain. Apa susahnya berhenti dulu, habisin rokoknya lalu baru berangkat naik motor? Mau lebih ekstrim lagi? Ya, naik motor, sambil ngerokok, sambil menelepon pakai HP. Kelar!