Sebenarnya apa yang benar-benar kau maksud dari tulisan atau ucapan “Semoga engkau segera mendapat hidayah”, atau “Semoga kita tidak menjadi orang yang sombong”, atau “Jauhkanlah kami dari orang yang bodoh”?

Kata “semoga” seharusnya identik dengan doa dan pengharapan. Namun jika kita sering menuliskannya di status atau komen mendia sosial, benarkah ucapan-ucapan itu adalah doa yang tulus? Dari kalimat “Semoga engkau segera mendapat hidayah”, benarkah kita sungguh-sungguh mendoakan agar kawan kita segera mendapatkan hidayah? Benarkah kita menyempatkan diri berdoa meminta kepada Allah SWt agar teman kita diberikan hidayah? Ataukah itu hanya kalimat pengganti untuk mengatakan “Kamu adalah orang yang belum mendapat hidayah, sedangkah aku sudah”?

Sedangkan dari kalimat “Semoga kita tidak menjadi orang yang sombong” – hmm, ini agak kusut. Dengan menuliskan kalimat seperti itu, bukankah justru kita sedang menyombongkan diri dan mengaku-aku sebagai orang yang humble nan rendah hati? Mana ada orang rendah hati mengakui diri sendiri tidak sombong? Penilaian tentang sombong dan rendah hati itu diberikan orang lain berdasarkan pengamatan mereka, bukan dari pengakuan kita.

Sama dengan kalimat “Jauhkanlah kami dari orang yang bodoh” – seolah dengan pongahnya memamerkan dirinya bukanlah orang bodoh. Menggariskan batas jelas sini pinter (tak bodoh), situ bodoh. Jadi ingat pesan orang-orang bijak, makin pandai seseorang makinlah ia merasa bodoh, hingga ia terus mencari tahu.

Ada lagi gaya lain pamer di media sosial. Yang ini banyak sekali dianut kaum ababil. Playing victim all the times. Bosen-bosen sedep sih bacanya, tapi mau di-unfriend kok ya sayanya jadi kelihatan kurang dewasa.

“Lelah banget deh jadi orang baik terus menerus. Saya tuh udah berusaha jadi teman yang baik lho, kalau dimintai tolong ya nolong. Kok teman-teman saya pada jahat ya, ke saya? Kok teman-teman saya tuh malah memanfaatkan saya ya?”

Nah, begitu itu, ditulis di status media sosial, dan dibaca teman-temannya. Kata “teman-teman” di sini adalah domain dari “teman-teman” yang diklasifikasikan “jahat” dalam statusnya. Pun status itu mengandung pengakuan, saya baik dan baik hati, kamu jahat dan suka memanfaatkan teman.

Atau kenarsisan tingkat dewa begini,

“Bapak saya tuh punya tiga orang anak gadis, semuanya cantik-cantik. Namun dari ketiga anak Bapak, hanya saya yang otaknya encer. Di sekolah, saya selalu berani mempertanyakan hal-hal yang murid lain tak berani menanyakan.”

Kayak baca fiksi ya? Eh, tapi ada kok yang setiap ada kesempatan mendeskripsikan dirinya sendiri dengan outstanding. Tanpa malu-malu! Dan bukan becandaan.

Sama dengan pertanyaan ledekan yang sering terlontar saat ini: “Situ sehat?” adalah bukan sebenar-benarnya pertanyaan yang menanyakan kesehatan orang lain. Tapi hinaan untuk mengatakan “Situ sakit!”