DREAMING IN SOMEONE ELSE’S DREAM

Bermimpi di dalam mimpi orang lain, emang bisa?
Bisa, lah! Banyak pula yang melakukan, dan mostly end up unhappy.
Kenapa?

Manusia itu kan makhluk sosial, membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-harinya. Bukan saja membutuhkan secara fisik, seperti minta tolong dikerikin, minta tolong pinjam duit, atau minta gula dan kopi. Tapi juga kebutuhan non fisik seperti pertemanan buat curcol ngalor-ngidul, persahabatan buat ngebolang bareng, atau sekedar perhatian saat membutuhkan.

Tapi sesosial-sialnya, eh salah ini kata ulangnya, sesosial-sosialnya manusia tentu masing-masing memiliki impian sendiri. Dan apakah mimpi dua orang sahabat itu sama? Belum tentu! Bisa jadi sangatlah berbeda. Apakah mimpi suami dan istrinya itu sama? Mungkin, mungkin saja suami istri memang dipersatukan tak hanya oleh cinta, tapi juga karena mimpi yang sama.

Perkembangan media sosial yang tersebar bak pandemi di seluruh bumi, membuat manusia bisa membagikan mimpinya dan sekaligus mengetahui mimpi orang lain. Tak hanya impian yang berwujud kebendaan seperti ingin rumah tingkat lima, atau ingin mobil mewah keluaran Eropa. Tapi juga mimpi-mimpi non kebendaan seperti ingin mengkhatamkan Al-Quran tiap dua bulan, atau mimpi ingin menulis di blog satu tulisan tiap minggunya, atau ingin langsing seperti Puteri Indonesia.

Deretan mimpi yang kita dengar, atau kita lihat bertebaran di media sosial bisa jadi mengacaukan mimpi kita sendiri, jika kita tak teguh pendirian. Misal, kita yang selalu menyukai mobil sedan karena kenyamanan dan keanggunannya, tiba-tiba ingin sekali membeli mobil SUV keluaran terbaru, hanya karena tetangga sebelah terlihat bahagia dan lebih keren setelah menaiki mobil SUV. Lalu setelah berhasil membeli, ternyata yang kita rasakan hanya kepuasan bisa membeli. Saat melihat sedan meluncur manis dengan anggun di jalan raya, kita tetap saja melirik iri dari jendela SUV. Karena mobil SUV adalah mimpi tetangga kita, tapi bukan mimpi kita. Tetangga kita bisa bahagia memilikinya, tapi kita belum tentu bisa sebahagia mereka.

Contoh lain, sebut saja Abud, adalah pecinta traveling. Ia bekerja keras mengumpulkan uang hanya untuk membeli tiket perjalanan memenuhi mimpinya melihat dunia. Ia rela tak memiliki mobil bagus, sound sytem keren, demi biaya visa, tiket, dan hotel. Tentu saja ia mengunggah foto-fotonya saat berkelana. Tak eksplisit memang ia membagikan mimpinya, tapi orang tahu dari linimasa-nya.

Lalu teman Abud, sebud saja Ebed, adalah pecinta modifikasi kendaraan. Mobilnya dicat dengan warna unik, se-Indonesia tak ada yang menyamai. Sound sistem di kabinnya pun sudah di-upgrade dengan biaya berjuta-juta. Lalu, suatu hari ia “memasuki” mimpi Abud.

“Bud! Gue ikut elu dong jalan-jalan. Ke mana kek, gue ikut aja lah!”
“Serius lu, Bed? Sejak kapan lu suka jalan?”

Alkisah, eciyeee alkisah, sudah kayak cerita-cerita 1001 malam, Ebed pun akhirnya jadi pergi bersama Abud. Menggendong ransel, membawa peta, berbekal bookingan hostel murah di beberapa kota. Sejak berangkat pun Ebed sudah mengeluh, airline murah yang masuk pesawatnya harus naik turun tangga. Turun di bandara bukannya naik taksi malah naik kereta api, penginapannya pun harus sekamar berempat pakai tempat tidur susun dengan kamar mandi di luar. “Bah! Di mana asyiknya jalan-jalan begini?” sungut Ebed.

Bagaimana Abud? Karena Abud sedang menjalani mimpinya, semua terasa menyenangkan. Airline murah berarti menghemat biaya perjalanan. Naik kereta berarti menyesapi kehidupan di kota yang disinggahi. Tidur berempat dengan orang asing berarti menambah teman. Semua terasa sempurna!

***

Banyak orang yang akhir-akhir ini menjadi kurang bahagia, hanya karena sedang bermimpi di dalam mimpi orang lain. Bersibuk-sibuk, berpeluh dari pagi hingga malam untuk mewujudkan mimpi yang sebenarnya bukan mimpinya sendiri, tapi mimpi orang lain. Sehingga yang berhasil didapatkan pun tak mampu membuatnya bahagia.

Maka, Kawan! Peganglah mimpimu erat-erat, jangan dilepas atau ditukar, lalu berusahalah sekuat tenaga untuk mewujudkan! Ingat, sekuat-kuatnya!