Kukira umurnya sekitar 55 tahun. Jalannya masih tegap dan cepat, tidak bungkuk apalagi loyo. Bahunya selalu ditarik ke belakang, sehingga dadanya sedikit membusung. Perutnya rata, mungkin hasil dari menjadi lacto-vegetarian seumur hidupnya. Wajahnya selalu menyunggingkan senyum tipis, meskipun tak ada kaitannya dengan rambutnya yang juga mulai menipis di bagian depan.

Ia bukanlah lelaki biasa. Pernah memegang jabatan penting dan tinggi di beberapa perusahaan kelas dunia. Pernah menjadi pembicara dalam seminar, yang tak sembarang orang bisa melakukannya. Pendidikan tinggi sepertinya didapatnya dari Eropa, melihat aksen bahasa Inggris-nya yang British.

Beberapa minggu setelah mengenalnya, dalam pembicaraan ringan suatu siang ia pernah berkata, “Istriku teramat istimewa. Aku tak memberikannya kesempatan bersibuk di pagi hari. Setiap ia bangun tidur, secangkir teh panas dan roti hangat sudah menunggunya di meja. She’s like princess!” Bukan, bukan! Ini bukan gerutuan, atau keluhan. Ia mengucapkan kalimat itu dengan mata berbinar dan senyum melebar. Ia sedang menceritakan betapa ia mencintai istrinya.

Betapa beruntungnya perempuan itu, memiliki suami yang demikian memanjakan dan memujanya sepenuh hati. Berapa kali kau temui laki-laki yang menceritakan istrinya dengan kata-kata dan wajah penuh cinta?

Beberapa bulan berikutnya, kami sedang ngobrol menjelang acara jamuan makan malam. Hanya karyawan saja yang turut acara ini. Aku masih ingat, ia menanyakan apakah anakku baik-baik saja jika aku pulang larut karena acara kantor? Ia juga menanyakan anakku sekolah di mana dan kelas berapa.

Seorang kolega laki-laki turut nimbrung pembicaraan kami. Maka mulailah pembicaraan seputar fitness dan tempat nge-gym. Lalu kolega kami tiba-tiba bertanya, “Bagaimana dengan keluarga Anda? Berapa anak Anda?”

Ia tersenyum dan sempat terjadi jeda sepersekian detik, “Aku tak memiliki anak. Keluarga yang kupunya hanya istriku.”

Kolegaku mendadak merasa bersalah, “Maafkan saya, Sir. Saya tidak tahu..,” kata-katanya menggantung di udara.

“It’s okay. Aku tidak apa-apa, itu pertanyaan normal.”

Aku merasa malu, sekian bulan mengenalnya, duduk tak jauh dari ruangannya, sering bertukar obrolan dan makanan, tapi tak tahu apapun tentang keluarganya.

“Aku mengenal istriku saat masih kuliah di India. Aku jatuh cinta dan demikian pula ia. Kami menikah setelah aku menyelesaikan pendidikan lanjutan di Inggris. Ia perempuan yang luar biasa! Kamu harus bertemu dengannya, ia perempuan yang tak akan bisa membuatmu bosan,” lanjutnya berkisah dengan mata penuh binar.

“Kemudian ia sakit. Sangat sakit, hingga rahimnya harus diangkat. Kami harus menerima kenyataan bahwa kami tak akan punya anak. Waktu itu ia demikian shock, dan merasa mengecewakanku. Tapi aku tak merasa demikian. Apa yang terjadi padanya bukanlah kesalahannya. Dan aku menikahinya karena aku mencintainya, bukan semata-mata menginginkan keturunan darinya,” ringan saja ia melanjutkan kisahnya. Seolah kenyataan itu hanyalah satu dari kejadian lain dalam hidupnya yang ia lepaskan.

“Dan istriku ini sangat mudah bosan. Mungkin karena ia hanya bersamaku setiap hari. Hahahaha..” ia terkekeh. “Karena ia sangat mudah bosan, aku harus berusaha berpindah setelah tinggal 4 atau 5 tahun di satu kota. Kadang tempatku bekerja meluluskan permintaanku untuk pindah ke cabang lain. Namun kadang aku harus melepaskan karir yang sedang kubangun, untuk mencari pekerjaan baru di kota lain meskipun kadang harus mundur selangkah dua langkah. Semua kulakukan agar istriku selalu gembira dan tidak bosan.”

***

Melting? Tentu saja! Sebagai perempuan Indonesia yang sering mendengar istri yang tak bisa memberikan keturunan ditinggal menikah lagi oleh suaminya, cerita dari lelaki ini membuatku terkesima. Sebagai perempuan yang sering muak mendengar para suami memakai istrinya sebagai bahan gurauan dan olok-olokan saat nongkrong, cara lelaki ini bercerita membuatku terpana.

Ternyata cinta yang sebenar-benar cinta masih itu ada..