Ahh.. sebentar lagi Imlek tiba!

Meski bukan keturunan Tionghoa, namun saya turut bergembira setiap kali Imlek tiba. Tidak, tidak..saya sudah tak lagi menerima angpau karena bukan lagi anak-anak. Saya selalu menikmati kemeriahan suasana menyambut Imlek di Tangerang, kota yang sudah saya tinggali sejak 1993 ini.

Di mulai dari pasar yang tiba-tiba penuh warna merah keemasan karena dagangan baju, lampion, pernak-pernik hiasan, angpau berbagai ukuran dan model. Juga toko dan penjaja kue mulai menyediakan makanan-makanan sajian untuk Tahun Baru Imlek.

Salah satu jajanan khas saat Imlek adalah kue keranjang. Kue yang berbahan dasar tepung ketan dan gula merah ini sepertinya memang wajib dibeli oleh saudara-saudara keturunan Tionghoa, entah untuk sembahyang maupun untuk hantaran.

Sebulan menjelang Imlek, pabrik akan menggenjot produksinya. Sehingga banyak pekerja cabutan yang biasanya berprofesi sebagai tukang kayu, tukang becak, hansip, tukang ojek, sementara beralih bekerja di pabrik dodol. Demikian pula di bagian packaging, banyak ibu-ibu yang musiman datang membantu. Di hari-hari selepas Imlek, pabrik tetap berproduksi namun tak begitu banyak.

Ada 2 macam dodol yang diproduksi di pabrik dodol Ny. Lauw, yaitu kue dodol keranjang dan kue dodol gulung. Kue dodol keranjang atau lazim disebut kue keranjang Ny. Lauw diolah secara tradisional dan dibungkus dengan daun pisang. Adonan dimasukkan dalam keranjang yang telah dialasi daun pisang, lalu dikukus dalam kotak steam tinggi.

IMG_3819[1].JPG
Dodol Diangkat dari Steam
Setelah melalui proses steam, bungkus daun kue keranjang dirapikan oleh sekelompok besar ibu-ibu saat dodol dalam keadaan panas baru diturunkan dari steam. Saya sempat mencoba menyentuh dodol yang baru diangkat, wuh..panas!

img_38201
Dodol dirapikan dalam keadaan panas-panas

Kue keranjang yang dibungkus daun pisang, dibuat dengan berbagai ukuran untuk disusun menyerupai kerucut makin kecil ke atas, dan dijual per set. Namun kebanyakan dibuat dengan ukuran standard diameter sekitar 15 cm tinggi 8 cm dan dijual satuan. Kue keranjang rasanya tak begitu manis dan setelah sekian lama akan mengeras. Biasanya, jika mendapat kue ini saya mengolahnya dengan cara digoreng berbalut tepung.

Jenis satunya lagi adalah dodol gulung yang dibungkus dengan plastik dengan bentuk silinder panjang. Sebenarnya rasanya mirip dengan dodol ketan di Jawa Tengah atau Jawa Timur, namun yang unik dodol di sini adalah, adonan yang sudah matang ditimbang, lalu dibentang dan digulung, baru dibungkus. Ada berbagai rasa dodol manis, yaitu polos, wijen, nangka, dan duren. Favorit saya yang rasa wijen dan duren! Uuugh, legit dan gurihnya berpadu sempurna!

Uniknya, pabrik ini punya standar adonan yang dengan sangat ketat ditetapkan. Pun, hanya orang-orang tertentu yang bisa memberikan keputusan dodol sudah matang atau belum. Pengaduk akan memanggil checker untuk memeriksa adonan dodol dengan menyelupkan semistar bambu ke adonan, lalu diangkat pelan. Adonan dodol yang tertarik mistar akan menyerupai kertas tipis. Lembaran dodol ini akan dibawa ke “hakim” yang akan menilai apakah adonan siap diangkat atau masih harus diaduk lagi.

img_38171
Checker Adonan Dodol Gulung

Jika adonan sudah dinyatakan matang, maka kayu dimatikan dan adonan dituang ke panci lain.

IMG_3821[1].JPG
Adonan Diangkat
Menjelang siang, aktivitas dapur produksi menurun karena semua proses dimulai sejak tengah malam. Bagian yang sibuk hanyalah bagian penggulungan, penyimpanan, dan penjualan. Teriakan-teriakan pesanan di ruang penjualan memperlihatkan betapa laris dodol Ny. Lauw ini.

Saat pulang melalui pintu pabrik, saya tiba-tiba tertarik dengan bau aneh dari bagian belakang. Dengan penasaran saya menuju pojok ruang masak. Ooohhh.. ternyata baru saja ada 1 truk duren diturunkan dan sedang dipilih, dibuka, lalu diambil daging buahnya saja. Daging buah ini digunakan untuk perasa dodol rasa durian. Pantesan dodol yang rasa duren manteb banget, karena memang menggunakan perisa daging durian asli! Di pabrik ini, essence-essence atau perisa kimia itu tak laku!

Perajin Kue Keranjang dan Dodol Nyonya Lauw
JL. Lio Baru/Bouraq, Gang SPG No 55 RT 01/02
Kampung Sirnagalih, Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten
Telepon : 021-5524587 dan 021-71095035

info alamat ini diambil dari blog Dokter Sindhiarta, Gubernur Tangerangsutra

Yuk, cintai dan lestarikan makanan dan budaya tradisional!