Beberapa hari lalu, seusai makan siang bertiga dengan teman, kami terjebak di persimpangan. Angkutan umum yang tepat di tikungan berhenti dengan cueknya menurunkan penumpang. Jadi tambah lama, karena penumpang yang turun menyodorkan lembaran seratus ribuan untuk membayar ongkos angkot yang mungkin hanya tiga ribu saja.

Karena sudah selesai makan, saya woles saja menunggu dan memberi sign lampu dengan maksud agar kendaraan dari arah lain memberi saya waktu untuk belok saat angkot bergerak maju. Selesai memberi kembalian segumpal uang ke penumpang, angkot pun bergerak pelahan. Saya pun menyusul dengan mengikuti dari belakang dengan pelan. Ya harus pelan, kalau saya ngegas kan nubruk angkotnya! Hahahaha.

anger

Tak disangka, dari arah kanan sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang ibu ngebut nyaris menabrak sisi kanan mobil yang saya kemudikan. Untung saja tidak jatuh atau menabrak, atau lebih buruk tertabrak kendaraan dari arah depan, sebab pengemudinya segera mengerem sekuat tenaga. Ibu pengemudi yang tidak mengenakan helm itu membonceng seorang perempuan muda.

Saya masih kaget, melanjutkan perjalanan dengan pelan. Tak disangka ada suara teriakan-teriakan tak jelas dari arah kanan. Rupanya ibu pengendara motor marah-marah dengan berteriak-teriak ke arah kaca mobil, dengan muka seperti kesurupan. Mata metotot, cuping hidung mengembang, mulut terbuka lebar saat berteriak, otot pelipis menyembul, alis bertaut. Tapi kami tak bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Kami yang di dalam mobil memperlambat laju kendaraan. Setengah takjub dan geli. Bukankah kami sudah memberi sign untuk belok? Bukankah dia yang ngebut menyelip ke kanan? Lalu pengendara motor itu masih belum puas, menyusul kami yang memang jalan pelahan dari sisi kiri dengan terus memaki. Sudahlah, toh kami tak mendengar apa yang dia makikan. Buat apa diladeni?

Tapi tak berhenti sampai di situ, setelah melibas ngepot mendahului, ibu pengendara mengangkang-ngangkangkan kakinya sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri kanan, seolah mengejek kami. Orang-orang di jalan melihat dengan bingung. Tawa kami bertiga meledak tak terkendali. Lihatlah, betapa lucu tingkah polah orang yang sedang marah. Betapa menggelikan kelakuan orang yang menuruti amarahnya untuk tumpah ruah. Tidakkah ia malu menjadi tontonan orang di jalan? Tidakkah ia merasa jengah dengan cacian yang ia lontarkan, dan ternyata yang dimaki pun tak bisa mendengarnya?

Pun di dunia maya..

Media sosial bukan panggung yang hanya diciptakan untuk kamu, saya, atau satu dua orang tertentu. Ya, tentu saja kita bisa berkelit dengan alasan kebebasan berekspresi. Tapi, apa ya kita rela jika orang lain melihat semua gejolak dan drama dalam kehidupan kita sambil tertawa? Apakah dengan mencaci dan meneriakkan kemarahan lantas masalahnya selesai? Sama seperti wajah orang yang sedang dikungkung amarah, tulisan yang ditulis dengan gemetar kemarahan pun jadi menggelikan untuk dibaca.

It defines you!

Lagipula, seperti juga jalanan, media sosial pun tidak hanya dipenuhi oleh manusia biasa. Seperti di pinggir jalan, media sosial juga punya lapak jualan, punya pelacur yang menjajakan diri diam-diam ataupun terbuka, ada makelar yang nimbrung ke sana kemari tapi urusannya hanya duit, ada tukang gossip penjaja intrik, ada oportunis yang selalu mencari celah keuntungan di antara sengketa. Ada juga penipu yang ngemplang uang atau menjual barang palsu. Ada pula para pendakwah religius yang selalu mengingatkan kita akan Tuhan, ada penasihat yang tak lelah berbagi quote bijak dan mencitrakan diri baik bak peri tanpa cela.

Ada yang seperti selebritis yang membagi kehidupan pribadinya selayaknya media sosial adalah reality show, ngupil aja dijadikan status Facebook! Ada pula penonton saja, hanya mengamati yang lewat-lewat sambil menikmati pisang kepok goreng dan kopi pahit di pagi hari.

Anda ingin jadi yang mana?