Bingung weekend mau ke mana? Kebosanan udah di ubun-ubun tapi isi dompet sedang tipis? Bosan dengan trip dari mal ke mal, dari toko baju, lalu toko tas dan berakhir di toko sepatu? Sudah jenuh dengan makan enak di restoran atau food court?

Mari kita coba ngetrip ke Majalengka!

Ehh, swear! Meski kita tahu Jakarta di mana, Bandung di mana, Cirebon di mana, tapi banyak lho yang nggak tahu di mana Majalengka berada. Sebelah mananya Tasikmalaya? Tasikmalaya sebelah mananya Bandung? Ternyata Majalengka itu posisinya dari Tasikmalaya 87 km ke arah utara. Dari Cirebon 36 km lewat jalan lama, atau 50 km lewat tol ke arah barat. Dari Jakarta (GT Cikunir) 185 km ke arah timur, melalui tol Cikapali, exit di gerbang Kertajati.

Akhir-akhir ini, Majalengka banjir wisatawan, setelah komunitas fotografi Majalengka (salah satunya dipimpin Pak Okka Supardan) membagikan foto keelokan terasering perkebunan daun bawang di daerah Panyaweuyan, Argapura – Majalengka.

Kapan baiknya mengambil foto ke Argapura?

Tanaman daun bawang ini memiliki masa tumbuh sampai panen 70 hari. Sehingga siklus penanaman per 3 bulan. Jika secara kasar masa panen dibagi per 3 bulan, maka prediksi masa panen adalah Februari, Mei, Agustus dan November. Jadi tergantung selera masing-masing, apakah ingin motret saat tanah bergaris hijau coklat sebelum masa tanam, ataukah saat tanaman sudah tinggi menghijau sebelum panen.

Jika ingin memotret saat tumbuhan menghijau, maka disarankan pergi di bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Sebagai catatan, bulan Februari dan Maret daerah atas akan sering terperangkap kabut yang datang secara tiba-tiba dan pekat.

Bagaimana menuju Argapura?

Jika tidak ingin menginap, sebaiknya diatur agar tiba di kota Majalengka sebelum jam 05:00 – sebab dari kota Majalengka menuju perbukitan Argapura akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jalan menuju atas sudah beraspal bagus, namun pastikan sopir menguasai kendaraan sebab jalan yang dilalui kadang hanya muat 1 mobil sehingga jika berpapasan dengan kendaraan lain perlu keterampilan khusus untuk berpapasan di jalan sempit.

Jika tak ingin ribet, mobil bisa diparkir di kampung bawah, lalu sewa motor ojek untuk kelilingan di perkebunan. Dengan motor, kita bisa berhenti setiap saat menemukan spot bagus, tanpa mengganggu jalan. Beberapa motor di Argapura sudah dimodifikasi dengan ban khusus (off road/trail) sehingga bisa naik turun di jalanan setapak perkebunan. Tapi naik motor turun ke perkebunan hanya disarankan bagi anda yang bernyali ganda. Tanah di perkebunan berwarna merah, liat sehingga licin jika terkena air hujan atau embun.

Jika anda ingin santai, bisa tiba di Majalengka siang atau sore hari dan menginap di hotel setempat. Ada beberapa hotel hasil penelusuran kemarin:

Sederhana Barru, no. telp 0233 281029 dengan tarif 300 ribu/kamar untuk AC twin share, dan 175 ribu/kamar untuk kamar dengan kipas angin twin share. Hotel ini berada di tengah kota, seberang alun-alun sehingga jika malam dekat dengan keramaian dan tempat ngemil iseng. Karena kami kemarin menginap di sini, jadi berikut sedikit ulasan tentang hotel SB. Jumlah seluruh kamar ada 12 kamar saja. Kondisi kebersihan ruangan cukup, kasur spring bed merk Elite, TV 17” yang siarannya sepertinya khusus untuk TVRI. Mungkin yang nginep di hotel ini tidak perlu nonton TV. Disediakan handuk 2 lembar dan sabun batang kecil 2 buah. Kamar mandi di dalam dengan bak mandi cukup bersih, toilet duduk, tanpa shower dan tanpa air hangat. Masing-masing kamar menghadap keluar dengan pintu berhadapan dipisah taman dan teras yang dilengkapi kursi untuk bersantai. Sarapannya mi instan telur plus teh manis hangat. Jangan lupa oleskan lotion anti nyamuk sebelum tidur.

Wisma Puspa Indah – Cigasong. Berada di perumahan Puspa Indah di Jalan Cigasong, sudah agak keluar kota. Penginapan ini masih agak baru, namun nomer telepon 0233 283777 tidak bisa dihubungi jadi menyulitkan reservasi. Ternyata yang aktif nomor HP 0822 18099777

Puri Elsa’s di Jl. Pemuda 44 – nomor teleponnya juga tidak bisa dihubungi 0233 889085. Hotel ini katanya hotel terlayak di Majalengka, biasa menerima tamu VIP maupun artis.

Lokasi dan arahnya ke mana?

Perkebunan terasering ini tepatnya berada di desa Argamukti, kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Lebih dikenal dengan Terasering Panyaweuyan (yang bukan orang Sunda siap-siap bibirnya keseleo baca).

Dari kota Majalengka (Jl Abdul Halim) menuju timur sampai ada bunderan, lalu belok kanan arah Cigasong sampai bertemu jalan mentok (di kanan ada Masjid Jami Maja) belok kiri. Mentok lagi belok kanan, lalu belok kiri ke arah Cibunut. Belok kirinya tanya saja ya, atau gunakan GPS. Tidak disarankan menggunakan mobil sedan atau mobil gede banget, bus misalnya.

Oya, karena di atas cuma ada warung sederhana yang jualan kopi panas, gorengan dan mi instan rebus, buat yang ganjel perutnya harus serius sebaiknya bawa bekal nasi lauk kerupuk dan sambal sendiri. Atau, kalau nggak malu bisa nimbrung emak-emak yang lagi buka bekal sarapan di tengah sawah. Seru!

Hal lain-lain yang perlu tahu apa?

Ibu-ibu dan bapak-bapak pekerja yang kita temui di kebun sangat-sangat ramah. Sempatkan untuk berbincang dan menjalin komunikasi dengan rendah hati. Kalau diajak makan ibu-ibu yang bekalnya napsuin (secara berangkat subuh belum sarapan, jam 8 ditawari makan bareng ibu-ibu pakai sayur asem & ikan asin) ya jangan rakus-rakus, makan secukupnya saja. Kalau kurang kenyang bisa pesen mi di warung 2 porsi.

Sebisa mungkin jangan nyampah di kebun, apalagi sampah plastik. Selain mencemari tanah perkebunan, juga mencemari spot foto.

Juga jangan saking seriusnya cari angle foto yang sempurna sampai kaki menginjak-injak tanaman bawang. Ingat, tanaman itu mata pencaharian orang lain yang sangat berharga, jangan dirusak demi beberapa frame foto.

Pakailah pakaian yang nyaman, Argamukti tidak terlalu dingin jadi tak perlu jaket tebal kecuali pingin bikin foto profil dengan jaket tebal di tengah kabut, sekalian pakai sepatu boot dan syal biar disangka bikin fotonya di Swiss. Disarankan mengenakan sandal bertali yang tidak licin, atau memakai sepatu adventure, kecuali hanya motret dari sisi jalan bolehlah pakai high heels.

Jadi, kapan kita ke Majalengka?