Bila anda berkesempatan melintasi Wlingi, kota yang terletak 20 kilometer di sebelah timur Kota Blitar, Jawa Timur, cobalah mampir ke pasarnya. Ada banyak hal yang bisa dilihat, dibeli dan dinikmati di sana. Favorit saya tentu saja makanan, apa lagi?

 

Adalah bubur gurih yang disajikan dengan balungan ayam bumbu kuning, lodeh kering nangka muda dan sambel goreng tempe. Balungan adalah sebutan untuk sekumpulan tulang belulang yang masih menyisakan sedikit daging yang menempel. Bubur nasi putih yang dimasak dengan santan membuat aroma yang menguar dari panci bubur begitu menggoda.

 

Dengan uang Rp 7,000 saja, kita bisa mendapatkan sebungkus besar bubur dengan timbunan balungan, lodeh nangka kering yang gurih, dan sambel goreng tempe yang pedas. Kombinasi ciamik untuk sarapan pagi! Tak terlalu kenyang, takaran pas untuk menunggu jam makan siang.

 

Bubur yang dijual Pak Sunyoto dibantu saudara perempuannya ini buka jam setengah tujuh pagi. Namun sejak jam 6 pagi orang sudah mulai mengantri. Serunya, yang mengantri kebanyakan ibu-ibu yang entah kenapa selalu terburu-buru. Ada yang anaknya keburu sekolah, ada yang ibunya sakit, ada yang kesiangan ke kantor, ada yang buru-buru pergi ke sawah dan lain-lain. Sehingga tak bisa dihindari antrian selalu ricuh, sebab tak ada nomor antrian untuk menandai urutan pesan. Lantas saja segera terdengar kalimat-kalimat protes “Bu, saya kan sudah antri duluan daripada ibu yang itu! Saya duluan dong!”, atau “Pak, dia kan datangnya setelah saya. Habis mbak yang ini, lalu mbak yang itu, habis itu saya!”

 

Dan Pak Sunyoto hanya tersenyum tipis tanpa menoleh apalagi menanggapi, terus saja dengan gaya hati-hatinya, ini istilah untuk mengganti kata lambat, membungkus pesanan satu per satu. Saudara perempuannyalah yang akan bertindak sebagai wasit, “Sabar ya, Bu! Semua kebagian, semua juga buru-buru jadi antri sesuai urutan. Siapa habis ini? Pesanannya apa?” Dan Pak Sunyoto hanya melaksanakan order ulangan dari bibir ‘asistennya’ ini.

 img_30291

Demikian terus hingga stock bubur di semua panci ludes, semua balungan tandas, sambal goreng habis! Itu terjadi sekitar jam setengah sembilan, atau jam delapan jika akhir pekan atau musim liburan.

 

Kerusuhan serupa juga terjadi di lapak yang terletak tepat di belakang lapak Pak Sunyoto. Namun karena Ibu Gethuk buka lebih pagi daripada Pak Sunyoto, sehingga kerusuhan ibu-ibu yang terburu-buru tak begitu panas. Tampak wajah ibu-ibu yang mengantri tidak setegang antrian bubur balungan.

 img_30341

Ibu Gethuk menjual gundukan gethuk singkong yang ditumbuk dengan gula merah, cenil yaitu tepung tapioka yang dipulung panjang-panjang, kicak yaitu campuran singkong dan kelapa yang ditumbuk lalu dipotong persegi, dan lupis yaitu ketan yang dikukus dan dimakan bersama parutan kelapa dan kinca gula merah. Ada juga gatot, yaitu gaplek atau singkong kering yang diserut kasar lalu dikukus. Juga kadang tiwul manis, yaitu tepung gaplek yang dikukus setelah dicampur gula merah.

 

Mengikuti azas supply dan demand, antrian di lapak Nasi Jagung tidaklah terlalu rusuh dibanding gethuk dan bubur balungan. Karena di pasar ini ada beberapa penjual nasi jagung yang memiliki die hard fans masing-masing.

 

Favorit saya adalah nasi jagung yang dijual di sisi selatan pasar. Nasi jagungnya sih standard, agak susah melakukan penilaian nasi jagung karena menurut saya rasanya sama saja. Yang membedakan biasanya jenis sayur dan lauknya. Sayur pepaya di sini lebih enak daripada yang di sana. Atau bumbu urap di sana lebih mantap daripada yang di situ. Yang terutama buat saya adalah menjeng! Nasi jagung favorit saya memiliki menjeng dengan rasa dan kerenyahan pas.

img_30402 

Menjeng adalah campuran parutan singkong dan kelapa muda, ditambah tempe masem kukus, lalu dibumbui sama dengan bumbu urap. Menjeng yang top adalah yang rasa kedele masemnya terasa, gurih kelapanya berjejak, pedasnya nampol, dan hasil gorengannya garing tidak berminyak.

 

Bersama dengan nasi jagung, ibu penjualnya juga menyajikan pecel punten. Punten adalah versi solid dari bubur gurih, karena bahannya sama yaitu beras dan santan. Jika bubur harus disendok, maka punten berbentuk padat. Adonan nasi dan santan yang telah matang, ditumbuk panas-panas dalam wadah dengan alu hingga buliran nasi hancur. Setelah bulir nasi hancur adonan dicetak dalam wadah dan ditekan-tekan agar padat. Saat penyajian, punten dipotong-potong persegi besar lalu ditimbun sayur dan disiram sambal pecel. Heavenly!

 

Demikian beberapa makanan dari sekian banyak makanan lain yang selalu ngangeni kemana pun saya pergi. Makanan yang mengandung filosofi tinggi tentang keindahan dalam campuran rasa yang beragam. Punten yang gurih bercampur sayur daun pepaya pahit dan sambal yang pedas. Nasi jagung yang kuning dicampur nasi putih, dimakan bersama menjeng pedas, ikan asin, oseng sayur dan urap. Bubur yang lembek dimakan dengan sambel goreng tempe pedas dan balungan yang gurih, dan kita harus berani repot menggerogoti tulang-tulang ayam demi mendapatkan kenikmatan puncak.

 

Adakah tempat yang lebih indah daripada pasar tradisional?

img_30271