Berjarak 76 kilometer dari Monas Jakarta, kalau menurut Google map bisa ditempuh dalam 2 jam 20 menit, meski aktualnya bisa 4 jam, Taman Safari Indonesia Bogor saat ini memiliki luas area 168 hektare. (sumber: Wikipedia)

Harga tiket masuk per orang adalah Rp 150,000 untuk turis domestik dewasa, Rp 140,000 untuk usia 1-5 tahun, Rp 5,000 untuk sepeda motor dan Rp 15,000 untuk mobil. Bagi yang tidak membawa mobil sendiri, bisa naik bus TSI (Taman Safari Indonesia) untuk bersafari.

img_29851

Begitu masuk gerbang, kita akan langsung memasuki area safari binatang liar. Diawali dengan gajah, lalu rusa, kuda nil dan seterusnya. Banyak binatang yang berkeliaran di jalan, sebaiknya hati-hatilah menyetir kendaraan. Rusa, sapi, llama, burung kasuari, hingga singa bebas mondar-mandir di antara mobil yang beriringan. Baiknya, patuhi peringatan di mana boleh membuka kaca mobil, di mana yang dilarang karena berbahaya.

img_29841

Meski banyak sign board yang melarang pengunjung untuk memberi makan binatang, namun petugas jaga tak tampak melarang pengunjung menyuapkan wortel pada rusa dan llama, juga pada onta dan kuda nil! Dan binatang-binatang pun tampak terbiasa mendekat ke mobil, bahkan melongokkan kepalanya dari jendela yang terbuka. Lucu sekali!

img_29891

Di area binatang buas seperti singa, macan Bengali, beruang coklat, petugas berjaga di dalam mobil berterali. Yang pasti, pengunjung dilarang membuka kaca jendela mobil di area binatang buas, juga dilarang turun dari mobil di sepanjang track safari.

img_29871

Selain memiliki koleksi binatang yang banyak dan terawat baik, saat ini TSI juga dilengkapi dengan arena bermain seperti Dufan dalam skala kecil. Ada kolam renang, perosotan, kanal tubing, dan beberapa permainan yang memicu adrenalin semacam Kora-Kora, Giant Wheel dll. Tersedia juga kereta gantung melintasi area permainan sekali bolak-balik dengan tarif Rp 50,000 per orang.

Ada juga Baby Zoo dengan hewan-hewan buas yang dibatasi kaca, juga taman burung dengan burung-burung yang berkeliaran bebas di dalam sangkar raksasa. Kita bisa memasuki area yang ditutup jaring besar, dengan jembatan-jembatan gantung, juga goa buatan untuk tempat tinggal Si Owl burung hantu, dan melihat burung-burung hidup bebas seperti di alam liar.

Banyak gerai makanan di area parkir TSI, jadi bagi yang enggan membawa bekal tidak perlu khawatir akan kelaparan. Namun jika membawa bekal pun pasti lebih asik. Kita bisa makan bersama keluarga di bangku-bangku berpayung sekitar area parkir. Sehat dan irit, kan?

Mulanya, konservasi alam ini adalah sebuah kelompok sirkus yang dimiliki oleh tiga bersaudara, Jansen & Frans Manansang dan Tony Sumampau. Hingga akhirnya berkembang menjadi TSI Bogor, TSI Prigen Jawa Timur dan TSI Gianyar Bali. (sumber: Republika)

Meski menarik untuk dikunjungi, akses ke arah Puncak selalu membuat stress bahkan sebelum kita berangkat dari rumah. Sebaiknya, jika ingin perjalanan lancar, usahakan berangkat sepagi mungkin. Pada jam-jam tertentu, arus kendaraan hanya dibuka searah ke atas. Sehingga saat pulang, pertimbangkan agar tak terjebak sistem buka tutup. Jika tak ingin repot memikirkan jam buka tutup saat pulang, selepas pintu keluar TSI ada jalur alternatif ke kiri langsung menuju ujung tol di Gadog, sebelum Vimala Hills. Memang jalannya kecil, berkelok dan naik turun. Tapi paling tidak kendaraan yang melewati jalur ini masih sedikit dan tidak ada buka tutup arus kendaraan.

Jika tak ingin lelah bolak balik, TSI juga memiliki fasilitas menginap yang unik berupa rumah pohon dan karavan. Jika menginap di TSI, anda bisa melakukan safari night, yaitu berkeliling area binatang saat malam hari. Konon, binatang buas lebih aktif di malam hari.

TSI bisa menjadi pilihan wisata alam yang edukatif bagi putra-putri anda. Badan segar menghirup udara bersih, hati pun senang melihat binatang-binatang beraneka ragam.

Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi pilihan liburan akhir pekan bersama teman atau keluarga.