4 Sep 2016

Delhi – Agra, Taj Mahal

Kami tiba pagi-pagi sekali di bandara Indira Gandhi, namun untuk mengejar kerata api express Delhi – Agra, pastilah tak terkejar. Sebenarnya perjalanan lebih nyaman dengan kereta api, namun rumitnya pemesanan tiket kereta yang harus pula memberikan nomor telepon lokal India membuat kami memutuskan menyewa mobil.

Sudah lewat jam sarapan ketika mobil kami yang dikemudikan Anoop Suri meninggalkan bisingnya Delhi. Persinggahan pertama adalah rest area di highway, tempat kami pertama kali merasakan kari yang asli.

“Hari pertama, kedua masih oke. Coba nanti hari keempat dan seterusnya ya..”

Hmm.. Poori Bhaji, roti menggelembung dicocol dengan kari sayur siang itu masih enak. Sopir-sopir mobil sewaan memang cenderung mengarahkan agar kita berhenti dan makan di tempat-tempat yang sepertinya sudah kong kalikong. Makanannya standard banget, tapi menjual souvenir-souvenir.

Ketika kami meminta untuk berhenti di suatu kedai makanan yang kami tunjuk, sopir dengan mbulet memberikan alasan ini itu, dan ujung-ujungnya kami berhenti di restoran turis lagi. Pfuhh!

Siang hari kami tiba di Agra, dan makan siang di restoran yang menyajikan ayam tandoori. Taste good! Dan harganya pun tak begitu mahal, sekitar 80-100 ribu rupiah per orang. Lucunya, meski restorannya kecil dan tak begitu ramai, namun pelayan yang berdiri siap melayani sangat banyak. Dan semua mengenakan baju necis seperti pegawai bank. Sepatu mengkilap, baju lengan panjang, dasi dan rambut klimis. Too many people in India? Mungkin.

Karena tiba sudah terlalu siang, juga tiket 1000 Rupee terasa mahal, kami memutuskan untuk melihat Taj Mahal dari taman di seberang Sungai Yamuna, yaitu Mehtab Bagh, sebuah taman terbuka yang hanya terpisah sungai dengan Taj Mahal. Prediksi kami, karena hari itu hari Minggu dan sudah siang, antrian masuk Taj Mahal pastilah sudah panjang. Dan di dalam pun sudah terlalu banyak orang.

Konon dari Mehtab Bagh ini kita bisa memotret Taj Mahal saat sunset dengan refleksi cantik permukaan sungai Yamuna. Konon lagi, tadinya di Mehtab Bagh ini akan dibangun pasangan Taj Mahal yang berwarna hitam, sebagai peristirahatan terakhir Shah Jahan. Memang sih, di Mehtab Bagh ini terdapat pondasi-pondasi dari bata merah di sepanjang tepi sungai.

Referensi:

https://www.antaranews.com/berita/493067/kepedihan-di-balik-taj-mahal

Fatehpur Sikri

Satu jam dari Taj Mahal ke arah barat, ada bangunan luas berwarna merah bata yang disebut Fatehpur Sikri yang juga merupakan Situs warisan Dunia UNESCO. Awalnya kota ini dibangun di atas desa Sikri oleh Kaisar Sikriwal Rajput Rajas terakhir yang bernama Maharana Sangram Singh pada awal tahun 1500, dan disebut dengan Sikrigarh. Setelah Sikrigarh dikuasai oleh Akbar dan Raja Rajput diasingkan, pembangunan benteng dimulai, namanya pun berubah menjadi Fatehpur Sikri yang artinya Kemenangan di Sikri pada tahun 1571. (sumber: Wikipedia)

  • Kisah Sultan Akbar ini difilmkan dalam film serial Jodha Akbar

 

fatehpur-sikri
Denah Istana Fatehpur Sikri

Kompleks ini sangatlah luas, karena dulunya ini adalah sebuah kota. Perlu waktu seharian untuk mengelilingi seluruh bangunan yang didominasi warna merah bata itu. Kita akan melintasi gerbang yang merupakan batas komplek. Namun mobil wisatawan harus parkir di tempat parkir yang agak jauh dari lokasi.

img_9598
Miriam – bangunan dalam Fatehpur Sikri

Dari tempat parkir, kita harus naik bus one-way ke arah kompleks Fatehpur Sikri dengan membayar 10 Rupees per orang untuk jarak sekitar 700-800 meter. Bus akan berhenti di depan loket tiket, lalu ngetem di depan masjid untuk mencari penumpang balik ke arah parkiran.

Tiket yang tertulis di papan sungguh meragukan, karena jelas terlihat tulisan asli ditutup lalu ditempel tulisan baru. Tarifnya 500 Rupees untuk wisatawan asing! Seharusnya, jika kita membeli tiket terusan di Taj Mahal, semua obyek wisata di Agra dan sekitarnya sudah termasuk dalam 1 tiket itu, termasuk ke Agra Fort dan berlaku 3 hari sejak pembelian. Itulah mengapa, sepulang kita dari Masjid Jami’ banyak anak kecil meminta tiket kita dengan alasan untuk koleksi! Hahahaha, jelas saja itu untuk dijual kembali!

***

Masjid Jami’ Fatehpur

Di samping komplek istana, dibatasi dengan taman kecil dan jalan terdapat Masjid Jami’ yang megah dengan pelataran luas. Masjid ini masih banyak dikunjungi jamaah meskipun sebagian besar adalah wisatawan dan peziarah.

fatehpur-sikhri
Denah Kompleks fatehpur Sikri dan Masjid Jami’

Memasuki tempat ini kita harus melepaskan alas kaki. Terdapat penitipan sendal dan sepatu di samping tangga masjid dengan tarif 10 Rupees saja, itupun boleh serombongan.

Di dalam kompleks bangunan ini juga ada bangunan berwarna serba putih, dengan pualam putih yang didatangkan dari Belgia. Bangunan yang terletak di teras masjid itu adalah makam Salim Christi, shaikh alim yang menjadi orang kepercayaan Akbar. Salim Christi lah yang meramalkan kelahiran putra Akbar yaitu Jahangir.

Masih banyak orang-orang yang berdatangan untuk menziarahi makam Salim Christi. Dengan khusyuk mereka berdoa dan mengikatkan benang di lubang-lubang angin yang mengitari jenazah. Di tengah bangunan makam terlihat gundukan yang ditutup kain berwarna hijau dengan banyak untaian bunga di atasnya. Di sekitarnya orang menunduk merapal doa.

Hati-hati, di area ini banyak scammer yang tiba-tiba menghampiri dan mengisahkan histori Fatehpur Sikri dengan mengatakan “Free”. Namun di akhir mereka akan memelas meminta bayaran 25-50 Rupee. Atau mereka akan membawa kita ke area belakang makam tempat beberapa penjual souvenir dari batu menggelar dagangan dengan mengatakan, “Belilah souvenir dari kami. Kami membuatnya sendiri di desa dekat sini. Jika kamu membeli di toko harganya lebih mahal. Padahal kamu bisa beli dari kami dengan murah sekaligus membantu kami.”

Maka setelah tawar menawar pun dibeli patung gajah dari batu setinggi 7 cm seharga 500 Rupee. Setelah merasa senang dan selesai, pas keluar area Fatehpur kita akan melintasi totko-toko souvenir yang menjual patung gajah serupa seharga 250 Rupee saja!

First scam on the first day!

Karena banyak burung yang meninggali komplek masjid ini, pelataran banyak diceceri kotoran burung. Pun, jika melintas di gerbangnya usahakan berlari. Jika kurang beruntung, pas kita lewat pas ada “bom” jatuh dari atas. Plok!

img_9596
Jamaah sholat Ashar sore itu

Tempat wudhlu terdapat di samping, bersebelahan dengan toilet laki-laki. Tempatnya agak bau pesing, dan kita hanya boleh memakai sendal saat di tempat wudhu. Sekeluar dari tempat wudhlu kita harus lompat-lompat mencari celah pelataran yang tidak terkena kotoran burung. Duh..

Di depan gate masjid yang menghadap ke kota, banyak penjual makanan yang nggelesot di lantai. Mereka menjajakan Thika Gathiya, yaitu semacam mi remes yang berasa pedas. Juga ada penjual buah potong, yang duh..di hari yang terik itu sungguh menarik hati. Tapi lalat yang sudah meninggalkan jejak membuat hilang selera.

Back to India, From Rajasthan to Kashmir

Next to: Jaipur, The Pink City then Udaipur, The Jewel of Rajasthan then to Jodhpur, The Blue City