Aku selintas saja membaca tagline tentang Mentawai di bandara saat mendarat untuk traveling di Padang beberapa tahun lalu. Seingatku, Mentawai adalah tempat yang banyak dikunjungi wisatawan asing penggemar surfing. Itu saja, aku tak pernah lagi ingin tahu lebih banyak.

Sampai pada suatu hari, seorang kawan yang sudah sering ke Mentawai menawariku ikut serta. Tanpa banyak pikir tawaran itu kuiyakan. Iya aja, pergi aja, entah itu di mana ikut aja.

***

Mei 2016

Day 1

Kami tiba di Padang dengan pesawat yang sebelumnya harus berputar-putar mencari celah untuk menembus awan tebal dan mendarat. Ketika keluar bandara, hujan deras bagai tertumpah dari langit. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Hatiku ciut. Kalau cuaca semacam ini, bagaimana besok kami di perjalanan?

Day 2

Perjalanan dimulai dengan menyeberang selama 4 jam menggunakan kapal cepat, Mentawai Fast jadwal dan detail please check: http://www.mentawaifast.com/ . Ada juga kapal feri yang berangkat dari Pelabuhan Bungus dengan jadwal tertentu. Dengan kapal feri perjalanan Padang ke Siberut memakan waktu 10 jam atau lebih tergantung cuaca. Kapal cepat Mentawai Fast cukup nyaman, dengan ruang ber-AC dan televisi yang memutar film.

Mendarat di Muara Siberut menjelang siang, kami istirahat dulu sekaligus makan siang dan sholat. Dari Siberut, kami berjalan kaki ke pinggiran Sungai Silaoinan dan takjub dengan kapal yang akan membawa kami menyusur ke hulu. Kapal itu lebih menyerupai kano panjang, dengan lebar sekitar 60 cm dan panjang 3 meter, sehingga muat diduduki 5-6 orang berikut barang bawaan. Kapal pompong ini sudah dilengkapi dengan motor pendorong, sehingga jangan khawatir harus mendayung ke hulu.

Ketika barang sudah dimuat, dan penumpang sudah duduk, tentu saja dengan mengatur keseimbangan mana yang berat dan ringan. Bibir pompong sudah nyaris rata dengan permukaan air sungai. Alamaaak! Alamat main basah-basahan pantat ini sih!

Menyusuri Sungai Silaoinan seperti menyihir seluruh inderaku. Mata, telinga, kulit..takjub menikmati pemandangan di kiri kanan yang masih berupa hutan. Untunglah matahari tak begitu terik, sebab paling tidak kami harus menyusur sungai ini selama 5-6 jam. Beberapa kali pengemudi yang duduk di buritan paling belakang harus bermanuver untuk menghindari gelondongan kayu yang hanyut di sungai. Atau mengurai sampah rumput yang membelit beling-baling mesin.

Aman Goddai dan Aman Lepon adalah pengemudi pompong yang handal dan tangguh. Nyaris hapal setiap tikungan dan aral yang menunggu di tikungan berikutnya. Kulit coklat tembaga yang dihiasi dengan tato melingkar-lingkar itu basah kuyup sejak berangkat. Lalu kering lagi terjemur matahari siang. Asyik sekali basah kering tanpa peduli, sebab hanya cawat dari kulit kayu yang menutup tubuh mereka.

Menjelang senja, kami tiba di percabangan sungai. Air sedang surut, sehingga kami harus turun dari pompong dan menceburkan kaki ke sungai sambil mendorong pompong. Air bening memperlihatkan batu-batu berwarna coklat dan kuning.

Tiba-tiba datang banyak anak-anak dan perempuan dengan sorak sorai gembira mengucapkan “Aloitta!” – sungguh terharu dengan sambutan yang hangat ini. Meski baru pertama bertemu, mereka memeluk kami seakan kami saudara yang sudah lama tidak pulang.

Seorang teman lelaki bahkan berjalan bergandengan tangan dengan seorang ibu dengan mesra layaknya ibu dan anak, menyusur jalan menuju kampung Buttui.

Matahari mulai surut ke barat ketika kami diterima di rumah keluarga Aman Goddai dan Aman Lepon yang berupa rumah panggung. Mereka berdua beserta anak istri masing-masing tinggal di rumah yang sama. Sedangkan Aman Laulau ayah mereka tinggal di rumah berbeda di seberang sungai. Namun sore itu, seluruh keluarga keturunan Aman Laulau berkumpul menyambut kami.

Perutku masih nyeri. Nyeri yang kubawa sejak dari Padang. Aman Laulau memerintahkan Aman Lepon untuk memetikkan sebuah kelapa muda agar aku bisa meminum airnya. Air kelapa muda di Mentawai sangat segar dan manis. Entah memang begitu, atau aku sedang haus. Segera badanku berangsur segar, dan nyeri perutku lenyap!

Rumah keluarga ini terdiri dari 3 bagian. Bagian depan adalah teras, bagian tengah ruang luas biasanya untuk acara keluarga namun mulai malam itu menjadi tempat kami tidur. Lalu bagian belakang terdapat 2 tungku di pojok kiri kanan, dengan kain penutup di 2 sudut lain yang berfungsi sebagai kamar 2 keluarga. Anjing yang merupakan sahabat keluarga bebas lalu lalang di mana-mana. Dulunya, babi pun bebas berkeliaran di kolong rumah maupun halaman. Namun setelah adanya himbauan untuk menjaga kesehatan, kandang babi dipindahkan ke seberang sungai, jauh dari rumah.

Tak ada toilet di sini. Acara mandi, cuci muka, wudhu, buang air dilakukan di sungai belakang rumah yang mengalirkan air jernih. Kebetulan, ada kelokan sungai di belakang rumah Aman Goddai yang agak tertutup pepohonan, sehingga aku bisa dengan nyaman menyalurkan panggilan alam.

Day 3

Aku terbangun dengan rasa geli dan hangat di telapak kaki. Eits! Rupanya anjing meringkuk mencari kehangatan di kakiku. Udara segar dan oksigen bertaburan melimpah. Ibu-ibu sudah ramai di depan tungku. Ada yang sedang membungkus sagu ke dalam daun sagu. Ada yang sedang memasak air untuk kopi. Ada yang sedang memanggang bungkusan sagu di atas api.

Lazimnya perempuan Mentawai tidak mengenakan pakaian atas untuk menutupi tubuhnya, bagian dada bukan dianggap sebagai bagian yang harus ditutupi. Sehingga sehari-hari mereka hanya mengenakan kain yang dililitkan ke pinggang saja, menutup hingga lutut.

Sagu panggang itulah menu sarapan untuk semua orang. Untuk balita, ibu-ibu merebuskan keladi (talas) yang dikunyah ibunya terlebih dulu, baru disuapkan ke mulut bayi. Menurut mereka, bayi yang sejak kecil dilatih makan keladi akan menjadi bocah yang berbadan kuat.

Tong, Antonius Tong, bocah kelas 5 SD itu berlari bolak-balik ke sungai mengambil air untuk mencuci sayur pakis yang baru dipetiknya di hutan. Tumis daun pakis dan bunga kecombrang akan menjadi menu makan siang kami.

Tong harus berjalan kaki satu jam untuk menuju sekolahnya. Jangan bayangkan berjalan di atas jalan yang layak. Yang disebut jalan oleh Tong sebenarnya adalah jalur setapak yang kalau tak terbiasa atau sedang becek bahkan tak jelas arahnya. Nanti setelah lulus SD, ia harus melanjutkan sekolah di Siberut, dan kos bersama kakaknya.

Hari itu kami mengunjungi penduduk dusun sebelah yang sedang membangun rumah. Di dusun ini, babi masih dibiarkan berkeliaran di halaman rumah. Ternyata babi sangatlah lucu, hobi benar mengejar-ngejar kami hingga kelabakan tak karuan! Di tempat ini pula, casing kulit kamera yang sedang kujemur karena tersiram air saat di pompong dicuri babi lalu dicabik-cabik hingga hancur. Bye-bye casing!

Bai Caro, yaitu ibunya Carolina, baru saja memiliki bayi berumur 3 minggu bernama Veronika. Malam itu kami mengadakan upacara selamatan di rumah Aman Laulau. Upacara diawali dengan penyembelihan ayam dengan disobek lehernya. Lalu diambil jerohannya untuk diterawang. Jika jerohannya bagus, maka baguslah masa depan si bayi. Acara diakhiri dengan tarian yang menggambarkan kehidupan burung-burung, dari bercengkerama hingga bertarung.

Day 4

Hari itu kami menuju lebih ke hulu, menuju kota kecamatan yang disebut Malakasat. Di tempat itu sedang ada kunjungan Bupati sehingga ramai dengan anak-anak sekolah yang melakukan penyambutan. Sebagian anak berangkat jalan kaki 6 jam dari Siberut menuju Malakasat menyusur hutan.

Tengah hari gerimis turun. Tepat saat itu tersiar kabar bahwa Sikerei meninggal dunia. Sikerei adalah tetua adat yang sangat dihormati. Meskipun Sikerei yang meninggal dunia beragama Islam, namun seluruh upacara adat tetap dilaksanakan.

Putri-putrinya mengelilingi jenazah sambil menangis pilu bersahut-sahutan, sambil mengucapkan kata-kata kesedihan tak terperi. Hingga kami yang tak mengerti bahasanya pun turut larut dalam kesedihan. Kentongan yang digeletakkan di depan rumah ditabuh dengan ritmis, seolah menambah suasana dukacita di sore yang naas itu.

Day 5

Hari itu Aman Laulau mempraktekkan cara membuat tato secara tradisional. Rajah yang terlukis di badan orang Mentawai memiliki banyak arti, bukan sekedar motif garis asal saja. Tinta hitam yang dipakai berasal dari jelaga yang ditetesi air tebu.

Aman Laulau mulai menggambar motif menggunakan ujung lidi ke permukaan kulit. Lalu tanpa pereda nyeri atau bius, alat tato yang menyerupai palu kecil namun ujungnya runcing seperti jarum diarahkan ke motif dan dipukul pelan namun cepat mengikuti garis yang tadi ditorehkan. Hingga menimbulkan luka kecil yang cukup untuk membiarkan jelaga meresap. Luka itu tak dibiarkan saja beberapa hari dan akan mengering sendiri.

Aman Godai juga memperlihatkan kepada kami, bagaimana cara membuat racun untuk berburu. Racun dibuat dari serutan kulit pohon Laingik yang dihaluskan dengan cabai rawit, lalu ditambahkan dengan baklau, rempah beracun. Adonan ini lalu dijepit untuk diperas sarinya. Sari inilah yang dioleskan ke ujung anak panah. Binatang buruan tertangkap bukan karena terluka parah, namun terkena racum mematikan ini.

Hujan deras mengguyur menjelang kami pulang. Hingga kami sibuk membungkus ransel dan tas kamera ke dalam plastik rapat-rapat. Untungnya, jika hujan deras tiba air sungai akan naik. Sehingga kami bisa naik pompong dari depan rumah, tak perlu berjalan ke arah kampung sebelah.

Seperti saat berangkat, kami harus menghabiskan waktu 5-6 jam untuk sampai kembali di Siberut. Tiba saat senja sudah menua, kami menunggu kapal feri membuka pintu. Untuk arah pulang, kami mencoba naik kapal feri di kelas VIP yang konon ada bed-nya. Namun ternyata yang disebut bed adalah ranjang bertingkat dengan matras 5 cm berbalut vinyl panas selebar 50 cm saja. Jadi untuk yang berbadan gemuk, dijamin senggol kanan senggol kiri selama minimal 10 jam!

Day 6

Mendarat di Pelabuhan Teluk Bungus saat subuh. Di luar masih agak gelap. Perjalanan berakhir setelah sarapan Katupek Sayur Paku dan mampir ke Toko Christine Hakim. Yang surprise, pemilik toko yaitu Bu Christine Hakim sendiri yang pagi itu melayani.

Begitulah kisah perjalan mengunjungi saudara kita yang tinggal di pedalaman Pulau Siberut. Saat ini sedang dibangun jalan beton selebar 16 meter membelah hutan lindung. Entah nanti apa jadinya setelah jalan jadi. Akankah modernisasi akan mencemari kehidupan damai dan sederhana di pedalaman sana. Ataukah menjadi berkah bagi anak-anak sekolah dan orang-orang sakit.

Modernisasi selalu menghadirkan dilema, antara orisinalitas budaya dan kemajuan.

 

nico
Oom Nico from Jakarta brought a lot of writing tools and paper, sitting together with Bai Caro and children

 

img_6955
Aman Lau Lau wants to see his picture I just took