Saya masih ingat, sekitar akhir tahun 2010 melihat seorang teman berfoto dengan latar belakang rumah-rumah dengan bentuk kuncup, di tengah lembah terkepung hijaunya pepohonan, dengan saputan kabut tipis. Meski belum tahu itu di mana, dalam hati saya memutuskan “I must go there, someday!”

Saya inbox teman saya, “Itu di mana, Bro? Papua kah?”

Teman saya menjawab, “Wae Rebo, Kak! Nusa Tenggara Timur, ke sini deh, indah banget!”

Sejak saat itulah, Wae Rebo tersimpan dalam target destinasi saya.

***

Rumah Mbaru Niang di Wae Rebo

Konon, desa dan keunikan rumah Mbaru Niang di Wae Rebo nyaris punah. Pada saat mulai direstorasi sekelompok arsitek yang dipimpin Yori Antar pada tahun 2008, rumah adat yang tersisa hanya tinggal 4. Padahal seharusnya rumah-rumah itu harus berjumlah 7, tak kurang dan tak lebih. Demikian adat mengajarkan untuk menghormati bumi dengan membatasi jumlah rumah hanya 7 saja.

Menurut cerita Pak Agus, warga Wae Rebo, rumah Mbaru Niang dibangun dengan tanpa menggunakan paku. Semua konstruksi memakai kayu yang diikat dengan rotan. Jika kita berdiri di tengah ruangan lalu melihat ke atas, akan terlihat kerumitan susunan kayu-kayu saling silang. Konstruksi kayu itu nanti ditutup dengan alang-alang dan ijuk sebagai penutup.

Jika kita memasuki rumah Mbaru Niang, akan kita temukan ruangan luas dengan dapur dan perapian di tengah ruangan. Asap akan membubung ke atas menngapai alang-alang dan ijuk, dan menyusup keluar. Di pagi hari dari atas kampung, asap-asap yang menyusup dari atap Mbaru Niang ini sangat indah dipandang. Saya masih takjub, rumah tradisional kayu dan berlantai kayu ini memiliki perapian kayu di dalam ruangan. Kok nggak kebakar?

Di sekeliling ruangan itu terlihat kamar-kamar yang tertutup tirai kain, tak ada pintu. Tiap kamar dihuni satu keluarga, sepasang suami istri dan anak-anaknya. Ada sekitar 6-7 kamar di sekeliling ruangan.

Tiap pagi buta, mama-mama akan memasak bersama di tengah ruangan untuk seluruh penghuni rumah. Mulai dari menanak nasi, memasak sayur, menggoreng, menumbuk, dan menyeduh kopi semua dilakukan bergotong royong. Lucunya, banyak anak-anak kecil yang jam 4 pagi sudah minta sarapan!

***

Bagaimana Cara Menuju ke Desa Wae Rebo?

Bandar Udara terdekat adalah Labuhan Bajo Airport, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jarak dari airport ke ujung jalan sebelum Wae Rebo, yaitu rumah singgah milik Pak Blasius Monta adalah 168 km melalui Jalan Trans Flores utara, dengan waktu tempuh 6-7 jam.

Jika pesawat mendarat di Labuan Bajo pagi hari jam 7, perjalanan ke Desa Denge bisa dilakukan sekali jalan satu hari. Namun jika pesawat mendarat tengah hari, perjalan harus dibagi menjadi 2 dengan transit menginap semalam di Ruteng. Jarak Ruteng ke Denge tidaklah terlalu jauh. Namun karena jalanan kecil dan sepi, akan sangat beresiko untuk melanjutkan perjalanan di malam hari.

Jika tiba di Denge malam atau sore hari, kita bisa menginap di rumah Pak Blasius Monta. Rumah ini memang sudah diset sebagai homestay atau tempat transit pagi wisatawan yang ingin mendaki ke Wae Rebo. Selain menyediakan kamar, Pak Blasius juga menyediakan makanan dan minuman. Homestay ini terletak tepat di sebelah SDK Denge.

Dari titik akhir jalan ini, dulunya wisatawan harus berjalan kaki sekitar 4 km untuk sampai di Wae Rebo. Namun sejak awal 2016 dari SDK Denge sampai Pos 1, sekitar 2 km, telah dibangun jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Sehingga jalur trekking menjadi separuhnya saja.

Perjalan trekking melalui bukit-bukit dengan jalur setapak kecil yang jika gerimis atau hujan menjadi licin. Kita harus mengandalkan pegangan pada batang atau akar pohon. Tiap beberapa ratus meter akan kita temui papan kecil yang menunjukkan jarak tempuh yang tersisa. Sinyal telepon sudah hilang sejak di Denge. Namun jika beruntung, kita bisa mendapat sinyal di pemberhentian kedua yaitu Pos Pocoroko.

Warga Wae Rebo sangat menghormati sumber air, sehingga mereka tidak membuang sampah dan buang air ke sungai. Maka jika di perjalanan trekking kita merasa haus dan kehabisan bekal minum, kita bisa isi botol air dengan air sungai dan langsung meneguknya. Tanpa bau, tanpa rasa!

***

Ngapain Saja di Wae Rebo?

Ketika tiba di perkampungan Wae Rebo kita diharuskan mengikuti upacara penyambutan di rumah utama, disebut Rumah Gendang, dan dipimpin oleh Bapa Rafael sebagai ketua adat. Sebelum upacara penyambutan yang lebih pada doa semoga semua selamat dari datang sampai pulang, kami tidak diperkenankan mengambil gambar. Juga dijelaskan do’s and don’ts yang harus ditaati selama di lingkungan perkampungan. Seperti, dilarang bermesraan meskipun dengan pasangannya. Dilarang membuang sampah sembarangan. Dilarang mengotori sungai, dan lain-lain.

Kebun kopi terhampar menjelang kita memasuki Dewa Wae Rebo. Oya, saya bukan penggemar berat kopi. Tapi entahlah, ngopi malam-malam sambil ngobrol di dalam Mbaru Niang itu nikmat banget! Apa mungkin karena kopinya fresh dari penggorengan, ditumbuk, lalu diseduh langsung diminum? Atau suasananya?

Ngobrol kesana-kemari tanpa satu orang pun yang sibuk terpekur pada layar gadget menjadi hal yang luar biasa saat ini. Sudah jarang kita melihat beberapa orang berkumpul tanpa melihat beberapa dari mereka sibuk dengan ponselnya. Yang menjadi jamak malah orang berkumpul di meja makan namun sibuk dengan gadget masing-masing, tanpa interaksi.

Saat ini Wae Rebo memiliki Mbaru Niang baru khusus tamu, letaknya di sebelah kanan paling ujung. Mbaru Niang satu itu hanya dibuka saat ada wisatawan menginap. Sedangkan agak di luar lingkaran, ada 2 bangunan baru yang digunakan untuk fasilitas kesehatan dan perpustakaan. Saat menginap di Wae Rebo, karena ramainya wisatawan saat Upacara Penti, kami tidur di perpustakaan. Ada toilet sederhana di samping perpusatakaan yang bisa dipakai mandi dan buang air.

Air yang digunakan berasal dari mata air yang dialirkan ke penampungan. Dari penampungan lalu air dipakai untuk konsumsi warga dan wisatawan. Air yang jernih, dingin dan segar.

***

Orang-Orang Wae Rebo

 Warga Wae Rebo sebagian besar memeluk agama Katolik, meskipun budaya animisme masih dijaga sebagai tradisi warisan leluhur. Terlihat jelas dari nama-nama yang mereka sandang. Agustinus, Andreas, Bartholomeus, Rafael, dll – Ada legenda yang menyebutkan orang Wae Rebo berasal dari Padang/Minang. Lengkapnya di sini

Anak-anak usia sekolah Desa Wae Rebo harus mengenyam pendidikan di desa bawah, Denge dan sekitarnya. Sebab tak ada satupun sekolah di Wae Rebo. Biasanya anak-anak usia sekolah berangkat berkelompok pada Senin dini hari berjalan kaki menuruni bukit dalam kegelapan, agar tiba di desa bawah sebelum jam sekolah masuk. Beberapa sambil membawa barang-barang titipan untuk sanak saudara yang tinggal di bawah. Sabtu siang sepulang sekolah, mereka akan kembali naik ke Wae Rebo untuk pulang.

Ibu-ibu yang sedang hamil pun harus turun berjalan kaki menyusuri jalan setapak sebulan sekali untuk memeriksakan kandungan ke desa bawah. Dan sorenya jalan kaki mendaki bukit lagi. Demikian dilakukan sampai usia kandungan 7 bulan. Setelah kandungan membesar, perempuan hamil dititipkan di sanak famili di desa bawah hingga melahirkan. Anak-anak kecil sudah diajarkan menyusuri jalan naik turun bukit sejak bisa berjalan, agar mereka hafal rute bahkan di kegelapan malam.

Betapa luar biasanya orang-orang Wae Rebo! Laki-lakinya harus naik turun bukit menggendong beras, kopi, belanjaan dapur apa saja. Perempuannya harus naik turun bahkan saat hamil. Anak-anak kecil dengan santai lari-lari kecil sambil loncat sana-sini mencari jalan pintas naik turun bukit.

Padahal saya, tanpa barang bawaan satu pun naik dari SDK Denge dengan perjuangan luar biasa. Ngos-ngosan seperti hampir putus napas. Berhenti berkali-kali dan beberapa kali merasa putus asa. Perlu 3,5 jam buat saya menyelesaikan rute trekking. Sedangkan bagi warga Wae Rebo, dengan beban beras 20 kilo hanya perlu waktu 2 jam saja. What the..

***

Kapan Waktu yang Tepat Untuk ke Wae Rebo?

 Jika sedang tidak ada upacara atau perayaan, kita bisa merasakan suasana ketenangan yang alami. Namun jika menginginkan moment upacara adat, sebaiknya datang pada tanggal 16-18 Nopember saat Upacara Penti. Ritual upacara yang dilakukan sangat banyak dan menarik, termasuk pertunjukan Tari Caci.

Selain Upacara Penti, tak ada lagi acara besar sepanjang tahun. Bahkan  Natal pun dirayakan dengan sederhana. Jika berkunjung saat bulan Agustus, kita akan temui kampung dengan hiasan merah putih di sana-sini. Jika menginginkan suasana segar dengan hamparan rumput menghijau, datanglah saat bulan Maret atau April.

Kegiatan pariwisata di Wae Rebo sudah ditata dibantu LSM, sehingga untuk menginap pun sudah ada tarif standard yang meliputi tempat menginap dan makan 3 kali sehari.

Apa Saja yang Harus Disiapkan dan Dilakukan?

 Pakailah pakaian yang sopan, berbahan katun agar menyerap keringat. Sebab meskipun di ketinggian, kampung Wae Rebo terletak di ceruk bukit, sehingga udaranya lembab.

  1. Pakailah sendal gunung atau sepatu adventure dengan tapak yang tidak licin.
  2. Siapkan mantel hujan untuk berjaga-jaga jika hujan turun di perjalanan.
  3. Bawalah kain sarung untuk penutup saat tidur. Sebab wisatawan akan tidur dalam satu ruangan terbuka berjajar-jajar.
  4. Bawalah extension cable dengan lubang colokan banyak. Listrik Wae Rebo menggunakan solar cell yang hanya menyala dari jam 6 sore sampai 10 malam.
  5. Tinggalkan barang yang tidak perlu di homestay, bawalah barang secukupnya ke atas. Dan sebaiknya tidak perlu menyimpan barang berharga di tas.
  6. Bawalah lauk kering dari rumah, sebab lauk di Wae Rebo akan melulu telur dan tumis sayur. Kering teri dan tempe, sambal, kecap akan sangat membantu.
  7. Kumpulkan sampah plastik dalam satu kantong, untuk dibawa turun ke desa. Jangan meninggalkan sampah plastik di Wae Rebo
  8. Bawalah lotion anti nyamuk dan obat-obatan pribadi yang diperlukan.
  9. Siapkan uang cash untuk membeli souvenir atau kopi.
  10. Bawalah buah tangan untuk anak-anak Wae Rebo berupa buku cerita bergambar, buku ensiklopedia bergambar, dan alat tulis. Juga, jika sempat bawalah mainan seperti bola sepak dan bola volley. Karena tak ada TV, hiburan anak-anak Wae Rebo adalah pernainan bersama di pelataran.