“But love is much like a dam; if you allow a tiny crack to form through wich only a trickle of water can pass, that trickle will quickly bring down the whole stucture and soon no one will be able to control the force of the current”

(Paulo Coelho, By The River Piedra I Sat Down and Wept – Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis)

***

Ya, menurut Paulo Coelho, seorang novelis asal Brazil, cinta itu diibaratkan sebuah bendungan.

“Namun cinta itu mirip bendungan; jika kau membiarkan satu celah kecil yang hanya bisa dirembesi sepercik air, percikan itu akan segera meruntuhkan seluruh bendungan, dan tak lama kemudian tak seorang pun bisa mengendalikan kekuatan arusnya. Setelah bendungan itu runtuh, cinta pun mengambil kendali, dan apa yang mungkin ataupun tidak, tak lagi berarti; bahkan bukan masalah apakah orang yang kita cintai itu tetap di sisi kita atau tidak. Mencintai berarti kehilangan kendali”.

Tak ada yang mampu bertahan ketika cinta telah membanjiri hati. Menenggelamkan logika, membutakan hati.

di-tepi

Saya menyelesaikan novel ‘Di tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis’ ini dalam one shot, sekali baca saja, langsung selesai saking asyiknya. Novel ini bercerita tentang dua sahabat semasa kecil yang tumbuh bersama, lalu mengambil jalan masing-masing yang berbeda. Pilar, sang wanita, meneruskan sekolah. Sementara sahabatnya mengambil jalur spiritual.

Sepuluh tahun setelah perpisahan, mereka bertemu saat Pilar sedang dalam kegelisahan hidupnya. Sahabatnya telah menjadi pemimpin spiritual di kota lain. Dikisahkan kemudian, mereka melakukan perjalanan bersama. Di sinilah novel ini mengaduk-aduk emosi pembacanya.

Sepuluh tahun berpisah, ternyata cinta yang tumbuh perlahan sejak kecil bukannya menjadi lenyap, namun bahkan membuncah. Namun keduanya sadar, posisi sahabat Pilar yang telah menjadi Imam dan telah bersumpah untuk melayani Tuhan, tak memungkinkan untuk menyatukan cinta mereka.

Pergumulan emosi, dilema yang menyakitkan hati dituangkan dengan kalimat-kalimat yang melarutkan pembaca, seolah terlibat dalam kegundahan mereka. Sekuat tenaga Pilar berusaha agar bendungan yang dibangunnya tidak retak dan ambrol. Pilar berusaha menekan cinta dengan segenap logikannya. Demikian juga Sang Lelaki yang terlibat dilema antara tetap melayani Tuhan atau menyerah pada cinta.

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”

Lalu bagaimanakah akhir kisah Pilar dan kekasihnya? Silakan baca sendiri kisah romantis yang rada-rada tragis dan bikin nyeri meringis ini.

Intinya, kadang kita membiarkan diri kita sendiri menderita, tenggelam dalam cinta yang kita izinkan merembesi bendungan lalu ambrol karenanya.